Eliest Listiani: Menenun Harapan dari Lahan Kritis Menuju Panggung Global
Owner & Direktur PT. SYAILENDRA BUMI INVESTAMA
Bagi Eliest Listiani, bisnis bukanlah sekadar tentang mengakumulasi angka dan laba. Baginya, bisnis adalah kendaraan terkuat untuk membawa perubahan sosial dan memulihkan bumi. Di balik perannya sebagai pendiri dan pemimpin PT. Syailendra Bumi Investama, terdapat rekam jejak panjang yang tidak biasa bagi seorang pengusaha: 17 tahun pengabdian di jalur kemanusiaan.
Akar Kemanusiaan yang Mengakar Kuat
Jauh sebelum menyelami dunia minyak atsiri, Eliest menghabiskan belasan tahun hidupnya di Yayasan SPEK-HAM (Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan & Hak Asasi Manusia). Di sana, ia mendedikasikan diri untuk mendampingi perempuan dan masyarakat akar rumput dalam memperjuangkan hak-hak dasar mereka.

Kariernya ditempa dari bawah, bermula sebagai seorang relawan hingga akhirnya dipercaya menjabat sebagai Direktur Yayasan sekaligus Direktur BUMY (Badan Usaha Milik Yayasan). Melalui posisi strategis inilah, Eliest mulai mengarahkan program-program yang menjadi passion terbesarnya: ekonomi pedesaan dan penghidupan berkelanjutan (sustainable livelihood) bagi para petani, khususnya perempuan.
Meski berada di puncak karier, panggilan jiwa untuk menjadi seorang wirausaha terus bergema. Setelah memastikan sistem kaderisasi kepemimpinan di yayasannya berjalan baik, Eliest mengambil langkah berani: mundur dari zona nyaman dan melangkah ke dunia wirausaha. Tanpa ia sadari, belasan tahun pengabdiannya di ranah sosial telah memberinya modal kepemimpinan, ketangguhan, dan kepekaan nurani yang kelak menjadi fondasi utama perusahaannya.
Panggilan dari Tanah Kelahiran
Titik balik perjalanannya terjadi pada tahun 2014. Saat kembali ke tanah kelahirannya di Brebes, Eliest dihadapkan pada pemandangan yang menyayat hati. Sejauh mata memandang, terhampar lahan luas yang tandus, gersang, dan kerap terbakar. Ironisnya, di tengah potensi lahan yang begitu besar, masyarakat dusun hidup dalam bayang-bayang kemiskinan.

Para petani hanya bisa menggantungkan hidup pada musim penghujan. Saat kemarau panjang tiba, lahan-lahan itu mangkrak. Petani terpaksa menganggur atau pergi ke kota untuk mencari pekerjaan serabutan, meninggalkan desa yang semakin tertinggal dari akses pembangunan.
Melihat ketimpangan itu, nurani Eliest tergerak. Bersama timnya, ia berpikir keras mencari jalan keluar agar lahan yang gersang tersebut bisa produktif sepanjang tahun. Riset panjang pun dilakukan, hingga akhirnya mereka menemukan satu jawaban botani yang tangguh: Serai Wangi (Citronella). Tanaman atsiri ini mampu bertahan hidup di lahan kering, bahkan di lahan pascatambang sekalipun.
Mengubah Kegersangan Menjadi Keemasan
Dengan sumber daya yang ada, Eliest turun langsung ke lapangan. Ia dan timnya melatih para petani untuk mengolah lahan kritis menggunakan pupuk kompos agar kembali subur. Perlahan tapi pasti, bibit-bibit serai wangi mulai menghijaukan Brebes. Para petani yang tadinya menganggur di musim kemarau, kini memiliki sumber penghasilan sepanjang tahun. Senyum kembali merekah di wajah mereka, dan harapan baru pun lahir.

Kerja keras itu menemui masa keemasannya pada rentang 2016 hingga 2018. Minyak atsiri serai wangi menjadi primadona di pasar. Permintaan melonjak drastis, dan harga minyak menyentuh angka yang sangat menyejahterakan. Seperti kata pepatah pada masa itu, “Belum selesai petani menyuling, pesanan (PO) dari pembeli sudah turun.”
Badai, Inovasi, dan Lompatan ke Pasar Global
Namun, dunia bisnis selalu menghadirkan ujian. Pada awal tahun 2019, harga minyak atsiri serai wangi anjlok drastis, bahkan merosot hingga di bawah Harga Pokok Produksi (HPP) petani. Di saat bersamaan, gempuran minyak sintetis yang murah membanjiri pasar.
Banyak yang menyerah pada situasi tersebut, tetapi tidak dengan Eliest. Prinsipnya jelas: ia tidak akan meninggalkan petani binaannya. Otaknya berputar mencari strategi agar minyak tetesan keringat petani tetap bisa diserap dengan harga yang layak.
Solusinya adalah hilirisasi. Eliest dan tim mulai melatih keluarga petani untuk mengolah minyak atsiri menjadi aneka produk turunan home care dan toiletries, seperti sabun mandi, pembersih lantai, minyak gosok, hingga sampo. Tantangan baru pun muncul; mereka yang terbiasa menjual minyak curah dalam drum kini harus belajar tentang kemasan (packaging), perizinan, promosi, hingga digital marketing.
Sosok Eliest yang dulunya lebih banyak berpanas-panasan di ladang bersama petani, kini bertransformasi. Ia mulai membawa produk-produk karya petani tersebut ke berbagai pameran bergengsi, baik di dalam maupun luar negeri. Visinya semakin tajam: melakukan ekspor langsung dan memproduksi barang hilir bernilai tambah agar harga komoditas petani tetap stabil dan bermartabat di mata dunia.
Komitmen Social Enterprise yang Mengakar
Bagi Eliest Listiani, DNA kemanusiaan tidak akan pernah bisa dihapus dari identitasnya. Bersama para founder lainnya, Eliest memosisikan PT. SYAILENDRA BUMI INVESTAMA dengan tegas sebagai sebuah Social Enterprise (Wirausaha Sosial).
Ini bukan sekadar janji manis perusahaan. Eliest dan tim mengikat komitmen untuk mendedikasikan 51% dari laba bersih perusahaan untuk program-program “Prosperity People & Sustainable Environment” (Kemakmuran Masyarakat & Pelestarian Lingkungan).
Kini, setiap tetes minyak atsiri yang bermuara dari PT. Syailendra Bumi Investama bukan hanya bercerita tentang kualitas ekspor dan kemurnian alam, tetapi juga menceritakan kisah tentang lahan kritis yang kembali bernapas, anak-anak petani yang bisa bersekolah, dan seorang perempuan yang menenun bisnisnya dengan benang-benang kemanusiaan.