A. Formulasi Minyak Pijat / Liniment (Topikal)

Tujuan formulasi

  • Memberikan efek hangat, relaksasi otot, dan kenyamanan pada otot serta sendi melalui aplikasi topikal.

Bahan

  • Cajuput (Sumatra) Essential Oil: 2–3%
  • Minyak pembawa (Carrier Oil):
  • Minyak kelapa fraksinasi / minyak jojoba / minyak biji anggur: q.s. hingga 100%

Cara Pembuatan

  1. Siapkan wadah bersih dan kering (gelas atau stainless steel).
  2. Masukkan minyak pembawa sesuai jumlah yang dibutuhkan.
  3. Tambahkan Cajuput Essential Oil secara perlahan sambil diaduk hingga homogen.
  4. Tuangkan ke dalam botol kaca gelap dan tutup rapat.

Cara Pemakaian

  1. Oleskan secukupnya pada area otot atau sendi.
  2. Gunakan 1–2 kali sehari sesuai kebutuhan.

Pengamanan & Pengujian

  1. Uji stabilitas visual (warna, bau, kejernihan) selama 14–30 hari.
  2. Lakukan uji iritasi kulit (patch test) pada sukarelawan sehat.
  3. Pastikan kadar minyak atsiri tidak melebihi batas aman topikal yang direkomendasikan literatur aromaterapi.

B. Formulasi Balsem / Salep Herbal (Semi Padat)

Tujuan formulasi

  • Sebagai produk penghangat dan pendukung kenyamanan tubuh.

Bahan

  • Cajuput (Sumatra) Essential Oil: 1–2%
  • Beeswax (lilin lebah): 10–15%
  • Minyak nabati (kelapa / zaitun / sunflower): q.s. hingga 100%

Cara Pembuatan

  1. Lelehkan beeswax dan minyak nabati menggunakan metode double boiler.
  2. Setelah meleleh sempurna, angkat dan dinginkan hingga suhu <40°C.
  3. Tambahkan Cajuput Essential Oil dan aduk perlahan hingga homogen.
  4. Tuang ke dalam wadah dan biarkan memadat pada suhu ruang.

Cara Pemakaian

  1. Oleskan tipis pada area yang membutuhkan efek hangat.
  2. Hindari area wajah dan luka terbuka.

Pengamanan & Pengujian

  1. Uji homogenitas dan titik leleh.
  2. Uji mikrobiologi dasar untuk formulasi industri.
  3. Uji iritasi kulit sesuai pedoman kosmetik.

C. Formulasi Inhalant / Aromaterapi Uap

Tujuan formulasi

  • Mendukung kenyamanan saluran pernapasan dan memberikan efek menyegarkan.

Bahan

  • Cajuput (Sumatra) Essential Oil: 3–5 tetes
  • Air panas: ±500 mL

Cara Pembuatan & Pemakaian

  1. Teteskan minyak ke dalam air panas.
  2. Hirup uap secara perlahan selama 5–10 menit.
  3. Gunakan maksimal 2 kali sehari.

Pengamanan

  1. Hindari penggunaan pada anak kecil tanpa pengawasan.
  2. Tidak dianjurkan untuk penderita asma berat tanpa konsultasi profesional.

D. Formulasi Roll-On Aromaterapi (Personal Use)

Tujuan formulasi

  • Produk praktis untuk penggunaan sehari-hari dengan efek relaksasi dan penyegar.

Bahan

  1. Cajuput Essential Oil: 5–10%
  2. Minyak pembawa ringan (jojoba / fractionated coconut oil): q.s.

Cara Pembuatan

  1. Campurkan minyak pembawa dan essential oil dalam botol roll-on.
  2. Tutup dan kocok perlahan hingga tercampur rata.

Cara Pemakaian

  • Aplikasikan pada pergelangan tangan atau leher bagian luar.

Pengamanan & Pengujian

  1. Patch test wajib sebelum penggunaan rutin.
  2. Evaluasi stabilitas aroma selama penyimpanan.

E. Formulasi Skala Industri: Minyak Pijat Aromaterapi

Tujuan formulasi

  • Sebagai produk wellness berbasis minyak atsiri untuk pasar komersial.

Contoh Komposisi (%)

  • Cajuput Essential Oil: 2%
  • Minyak pembawa utama: 97–98%
  • Antioksidan alami (mis. tocopherol): 0,1–0,5%

Tahapan Produksi

  1. Penimbangan bahan sesuai batch.
  2. Pencampuran menggunakan low-shear mixer.
  3. Filtrasi jika diperlukan.
  4. Pengisian ke botol kaca atau HDPE food grade.

Pengujian Wajib Industri

  1. Uji stabilitas akselerasi
  2. Uji mikrobiologi
  3. Uji keamanan kulit
  4. Verifikasi spesifikasi minyak atsiri (GC–MS)

Catatan Ilmiah Umum Formulasi

  • Konsentrasi Cajuput Essential Oil mengikuti batas aman topikal yang direkomendasikan literatur aromaterapi dan farmakognosi.
  • Formulasi bersifat non-medis dan ditujukan untuk penggunaan luar serta aromaterapi.
  • Tidak untuk penggunaan oral tanpa standar farmasi.

Dokumen Pendukung untuk Ekspor

  • Certificate of Analysis (COA)
  • Material Safety Data Sheet (MSDS)
  • Phytosanitary Certificate
  • Sertifikat Halal 
  • Sertifikasi CITES (permintaan untuk ekspor spesies dilindungi)
  1. Chemical Composition, Antibacterial and Antioxidant Activities of Melaleuca Essential Oils
  2. Safety and Efficacy of Cajuput Oil (Melaleuca leucadendra and Melaleuca cajuputi) as a Feed Additive
  3. Chemical Constituents of Melaleuca leucadendron Leaf Essential Oil Collected in Yogyakarta, Indonesia
  4. Antibacterial Activity of Melaleuca leucadendron Essential Oil Against Oral Pathogens
  5. Effect of Melaleuca leucadendron Essential Oil Aroma on Human Physiological Responses
  6. Physicochemical Characteristics of Kayu Putih (Melaleuca leucadendron) Essential Oil
  7. Agronomic and Biochemical Review of Melaleuca cajuputi and Related Species
  8. Physicochemical Properties and Chemical Compositions of Melaleuca leucadendron Leaf Oils
  9. Identification of Bioactive Compounds in Kayu Putih Essential Oil Using GC–MS
  10. A Review on the Potency and Pharmacological Activities of Melaleuca leucadendron Leaves
  11. Traditional and Scientific Uses of Melaleuca Species in Natural Medicine
  12. Nanoemulsified Essential Oil of Melaleuca leucadendron: Chemical Profile and Biological Activity
  13. Chemical Composition and Biological Activities of Melaleuca Essential Oils: A Review
  14. Essential Oil from Melaleuca leucadendra: Antimicrobial, Antiproliferative and Cytotoxic Activities
  15. EFSA Panel Assessment on the Safety of Cajuput Essential Oil
  16. Aroma-Active Compounds of Melaleuca cajuputi Essential Oil and Its Applications
  17. Essential Oil from Melaleuca leucadendra: Chemical Composition and Bioactivity
  18. Nanoformulation and Pharmaceutical Potential of Melaleuca Essential Oils
  19. Chemical Constituents of Melaleuca leucadendron Leaf Essential Oils Under Different Collecting Times
  20. Variation in Kayu Putih (Melaleuca leucadendron) Oil Quality Under Different Farming Systems in Java, Indonesia
  21. Phytochemical Constituents and Antioxidant Activities of Melaleuca leucadendra Leaves
  22. Antimicrobial Activity of Essential Oils from Melaleuca Species
  23. The Essential Oil Composition of Melaleuca leucadendra L.
  24. Chemical Characterization of Essential Oils from Melaleuca and Related Species
  25. Phytochemical Profile and Antioxidant Activity of Melaleuca leucadendra Essential Oil
  26. Chemical Composition and Biological Properties of Melaleuca leucadendra Essential Oil

Manfaat terapeutik Cajuput (Sumatra) Essential Oil telah dipelajari melalui pendekatan farmakologi modern, terutama yang berfokus pada aktivitas 1,8-cineole dan senyawa terpenoid lainnya.

A. Manfaat pada Sistem Pernapasan

  • Membantu melegakan saluran pernapasan melalui efek mukolitik dan ekspektoran ringan.
  • Mendukung kenyamanan pada kondisi batuk ringan dan hidung tersumbat melalui inhalasi aromatik.
  • Efek ini telah dilaporkan dalam studi farmakologi eucalyptol pada minyak atsiri Melaleuca dan Eucalyptus.

B. Manfaat Anti-Inflamasi

  • Menunjukkan aktivitas anti-inflamasi ringan hingga sedang pada studi eksperimental.
  • Berpotensi membantu mengurangi respons inflamasi lokal ketika digunakan secara topikal dalam formulasi yang tepat.

C. Manfaat Analgesik dan Relaksasi Otot

  • Memberikan efek analgesik ringan dan sensasi hangat saat diaplikasikan pada kulit.
  • Mendukung relaksasi otot dan mengurangi ketegangan setelah aktivitas fisik.
  • Efek ini dikaitkan dengan stimulasi sirkulasi darah perifer oleh monoterpen.

D. Aktivitas Antimikroba Terapeutik

  • Memiliki aktivitas penghambatan terhadap beberapa mikroorganisme patogen pada uji laboratorium.
  • Mendukung penggunaan tradisional sebagai minyak antiseptik ringan untuk aplikasi luar.

E. Efek Psikologis dan Neurofisiologis

Aroma khas eucalyptol memberikan efek:

  • Menyegarkan
  • Meningkatkan kewaspadaan ringan
  • Mengurangi rasa lelah mental
  • Efek ini telah diamati dalam studi aromaterapi berbasis inhalasi minyak atsiri kaya cineole.

F. Pendukung Terapi Komplementer

  • Digunakan sebagai bagian dari terapi komplementer, bukan terapi utama.
  • Mendukung kesejahteraan umum ketika digunakan secara tepat, aman, dan terkontrol.
  • Minyak Cajuput Sumatra esensial bukan obat dan tidak dimaksudkan untuk mendiagnosis, mengobati, menyembuhkan, atau mencegah penyakit apapun.
  • Informasi ini bersifat edukatif dan aromaterapi, bukan rekomendasi medis.
  • Penggunaan terapeutik belum diuji secara klinis pada manusia.

A. Kegunaan Farmasi dan Tradisional

  • Digunakan sebagai agens topikal dalam sediaan liniment, balsem, dan minyak gosok.
  • Berperan sebagai dekongestan aromatik melalui inhalasi uap, mendukung kenyamanan saluran pernapasan.
  • Digunakan dalam praktik pengobatan tradisional sebagai minyak penghangat tubuh dan pereda ketidaknyamanan otot.

B. Kegunaan dalam Industri Kosmetik dan Personal Care

Bahan aktif atau fragrance functional dalam:

  • Produk pijat dan spa
  • Sabun dan body wash
  • Salep herbal dan krim aromaterapi

Memberikan efek sensasi segar, bersih, dan hangat, yang secara sensorik meningkatkan pengalaman penggunaan produk.

C. Kegunaan sebagai Agen Antimikroba Alami

  • Digunakan sebagai komponen alami dalam formulasi pembersih dan produk higienitas.
  • Studi in vitro menunjukkan aktivitas terhadap beberapa bakteri Gram-positif dan Gram-negatif, serta jamur tertentu, sehingga relevan untuk aplikasi non-farmasi.

D. Kegunaan Aromaterapi

Digunakan dalam diffuser atau inhalasi untuk:

  • Menciptakan efek menyegarkan
  • Mendukung rasa lega pada pernapasan
  • Memberikan stimulasi ringan pada sistem saraf

E. Kegunaan Industri Berbasis Alam

Bahan baku dalam pengembangan:

  • Produk herbal terstandar
  • Formulasi aromatik berbasis minyak atsiri
  • Produk wellness dan natural remedy

CAJUPUT SUMATRA ESSENTIAL OIL / MINYAK ATSIRI KAYU PUTIH SUMATRA By DDISTILLERS

Merk: DDistillers

INCI name: Melaleuca Leucadendron Leaf Oil

Kategori Produk: Single Essential oil, purity: 100

HS Code: 33012990

CAS#: 8008-98-8

FEMA#: 2225

Metode ekstraksi: Destilasi uap / Steam Distillation


DESKRIPSI PRODUK:

Cajuput (Sumatra) Essential Oil merupakan minyak atsiri alami yang diperoleh dari daun dan ranting muda tanaman Kayu Putih Aceh dengan nama ilmiah Melaleuca leucadendra (L.) L., famili Myrtaceae. Minyak atsiri ini dihasilkan melalui metode destilasi uap (steam distillation), yaitu teknik ekstraksi yang secara luas direkomendasikan dalam literatur ilmiah karena mampu mengekstraksi senyawa volatil secara optimal tanpa menyebabkan degradasi kimia akibat suhu tinggi. Penggunaan daun dan ranting muda didasarkan pada temuan farmakognosi yang menunjukkan bahwa jaringan vegetatif muda mengandung kelenjar minyak atsiri dengan konsentrasi senyawa aktif yang lebih tinggi dibandingkan bagian tanaman yang telah menua.

Secara kimia, Cajuput (Sumatra) Essential Oil didominasi oleh senyawa monoterpen oksigenasi, terutama 1,8-cineole (eucalyptol), yang secara konsisten dilaporkan sebagai komponen utama dalam minyak atsiri Melaleuca leucadendra. Selain 1,8-cineole, minyak ini juga mengandung senyawa lain seperti α-terpineol, limonene, linalool, α-pinene, dan β-pinene, yang berkontribusi terhadap karakter aroma, stabilitas, serta aktivitas biologisnya. Komposisi ini sejalan dengan profil kimia yang tercantum dalam berbagai monograf minyak atsiri dan hasil analisis kromatografi gas–spektrometri massa (GC–MS) yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional.

Dari sisi spesifikasi fisik, Cajuput (Sumatra) Essential Oil berbentuk cairan volatil yang jernih hingga berwarna kuning pucat, dengan viskositas rendah dan mudah menguap pada suhu ruang. Minyak ini tidak larut dalam air, namun larut dalam pelarut organik seperti etanol dan minyak nabati, sesuai dengan karakteristik umum minyak atsiri berbasis monoterpen. Sifat fisik tersebut merupakan indikator kemurnian minyak atsiri dan sering digunakan sebagai parameter awal dalam pengendalian mutu (quality control) bahan baku industri farmasi, kosmetik, dan aromaterapi.

Karakteristik organoleptik Cajuput (Sumatra) Essential Oil ditandai oleh aroma kuat, segar, tajam, dan kamferaseus, dengan nuansa khas eucalyptol yang dominan. Aroma ini memberikan sensasi hangat dan menyegarkan, yang secara tradisional diasosiasikan dengan efek dekongestan dan stimulatif. Dari aspek sensorik, minyak ini memiliki rasa pedas dan hangat (indikatif) apabila diuji secara terbatas sesuai prosedur farmakognosi, meskipun penggunaan oral tidak direkomendasikan tanpa formulasi farmasi yang terstandar. Profil organoleptik tersebut konsisten dengan deskripsi yang tercantum dalam farmakope tradisional maupun literatur ilmiah modern terkait minyak atsiri genus Melaleuca.

Secara keseluruhan, deskripsi, spesifikasi, dan karakteristik organoleptik Cajuput (Sumatra) Essential Oil mencerminkan minyak atsiri berkualitas tinggi dengan kandungan senyawa bioaktif yang telah teridentifikasi dan tervalidasi secara ilmiah. Karakter ini menjadikan Cajuput (Sumatra) Essential Oil relevan sebagai bahan baku industri berbasis alam, baik untuk aplikasi farmasi tradisional, kosmetik, aromaterapi, maupun produk perawatan tubuh, dengan dasar ilmiah yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.


BOTANIKAL DAN MORFOLOGI:

Melaleuca leucadendra (L.) L. merupakan spesies tanaman berkayu dari famili Myrtaceae yang secara luas dikenal sebagai salah satu sumber utama minyak atsiri kayu putih (cajuput oil) di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Spesies ini tumbuh baik di daerah tropis dan subtropis, khususnya pada wilayah dataran rendah dengan kondisi tanah lembap hingga tergenang secara periodik. Keberadaan kelenjar minyak atsiri pada jaringan daunnya menjadikan tanaman ini bernilai tinggi sebagai bahan baku industri minyak atsiri.

Klasifikasi Botani

  • Kingdom: Plantae
  • Divisi: Tracheophyta
  • Kelas: Magnoliopsida
  • Ordo: Myrtales
  • Famili: Myrtaceae
  • Genus: Melaleuca
  • Spesies: Melaleuca leucadendra (L.) L.

Klasifikasi ini telah dikonfirmasi dalam berbagai basis data botani internasional dan monograf ilmiah tanaman genus Melaleuca.

Habitus dan Batang

  • Melaleuca leucadendra tumbuh sebagai pohon berkayu keras dengan tinggi rata-rata 15–30 meter, dan dalam kondisi optimal dapat mencapai lebih dari 30 meter. Batangnya tegak, silindris, dengan diameter cukup besar pada pohon dewasa. Salah satu ciri morfologi yang paling khas adalah kulit batang berlapis-lapis, berwarna putih hingga keabu-abuan, bersifat papery bark, dan mudah mengelupas. Struktur kulit batang ini berfungsi sebagai adaptasi terhadap kondisi lingkungan ekstrem seperti kebakaran ringan dan fluktuasi kelembapan.

Daun

Daun merupakan bagian tanaman yang paling penting secara farmakognostik karena menjadi sumber utama minyak atsiri.

Karakteristik daun:

  • Bentuk: Lanset sempit hingga lonjong
  • Panjang: ±10–20 cm
  • Lebar: ±1–3 cm
  • Ujung daun: Runcing
  • Permukaan: Halus, mengandung banyak kelenjar minyak atsiri transparan
  • Susunan daun: Berseling atau hampir berhadapan
  • Kandungan kelenjar minyak atsiri yang tinggi pada daun, khususnya daun muda, telah dibuktikan melalui pengamatan histologi dan analisis fitokimia, sehingga bagian ini menjadi bahan utama dalam proses destilasi uap.

Bunga

Bunga Melaleuca leucadendra tersusun dalam bentuk bulir (spike) atau tandan memanjang yang muncul di ujung ranting atau ketiak daun.

Ciri morfologi bunga:

  • Warna: Putih hingga putih kekuningan
  • Benang sari: Panjang dan mencolok, menjadi elemen dominan visual
  • Tipe bunga: Hermaprodit
  • Penyerbukan: Umumnya dibantu oleh serangga
  • Struktur bunga ini merupakan ciri khas famili Myrtaceae dan berperan penting dalam identifikasi taksonomi genus Melaleuca.

Buah dan Biji

Buah Melaleuca leucadendra berbentuk kapsul kecil berkayu, tersusun rapat sepanjang batang atau cabang.

  • Buah: Kapsul keras, kecil
  • Biji: Sangat kecil, jumlah banyak
  • Penyebaran: Dibantu oleh angin dan air

Walaupun bagian buah dan biji tidak dimanfaatkan dalam produksi minyak atsiri, karakteristik ini penting dalam studi ekologi dan konservasi spesies.

Habitat dan Persebaran

Secara alami, Melaleuca leucadendra ditemukan di:

  • Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Thailand)
  • Australia bagian utara
  • Wilayah pesisir, rawa, dan dataran rendah
  • Di Indonesia, spesies ini tumbuh baik di wilayah Sumatra, termasuk Aceh, dengan kondisi iklim tropis basah yang mendukung biosintesis minyak atsiri.

Kaitan Morfologi dengan Kandungan Minyak Atsiri

Struktur daun yang kaya akan kelenjar sekretori minyak atsiri serta adaptasi fisiologis terhadap lingkungan lembap berkontribusi pada produksi senyawa monoterpen oksigenasi, terutama 1,8-cineole. Hubungan antara morfologi daun dan kandungan minyak atsiri telah banyak dilaporkan dalam studi botani dan kimia tanaman obat, menjadikan Melaleuca leucadendra sebagai spesies penting dalam kajian etnofarmakologi dan industri berbasis alam.


SEJARAH DAN PENGGUNAAN

Minyak cajuput (cajuput oil) merupakan salah satu minyak atsiri tertua yang dikenal dan dimanfaatkan di kawasan Asia Tenggara, termasuk wilayah Sumatra. Istilah “cajuput” berasal dari kata Melayu kayu putih, yang merujuk pada ciri khas kulit batang tanaman Melaleuca leucadendra (L.) L. yang berwarna putih dan berlapis. Catatan historis menunjukkan bahwa pemanfaatan minyak cajuput telah berlangsung jauh sebelum masuknya sistem pengobatan modern, terutama dalam praktik pengobatan tradisional masyarakat Nusantara.

Sejarah Awal dan Penggunaan Tradisional di Nusantara

  • Di Sumatra dan wilayah lain di Indonesia, daun dan ranting kayu putih secara tradisional diproses melalui perebusan atau penyulingan sederhana untuk menghasilkan minyak aromatik yang digunakan sebagai minyak gosok, penghangat tubuh, dan penunjang kesehatan pernapasan. Praktik ini terdokumentasi dalam kajian etnobotani dan etnofarmakologi yang menyoroti peran penting tanaman genus Melaleuca dalam sistem pengobatan tradisional Melayu dan masyarakat pesisir.
  • Penggunaan minyak cajuput dalam konteks tradisional umumnya bersifat topikal dan inhalasi, terutama untuk meredakan masuk angin, nyeri otot, kelelahan, serta gangguan pernapasan ringan. Pola penggunaan ini konsisten dengan karakteristik kimia minyak cajuput yang kaya akan senyawa monoterpen oksigenasi, khususnya 1,8-cineole, yang memberikan sensasi hangat dan segar.

Perkembangan pada Masa Kolonial dan Dokumentasi Ilmiah Awal

  • Pada abad ke-18 hingga ke-19, minyak cajuput mulai menarik perhatian ilmuwan dan apoteker Eropa seiring dengan meningkatnya eksplorasi botani di wilayah Hindia Belanda. Minyak ini kemudian didokumentasikan secara resmi dalam literatur farmasi Eropa dengan nama “Oleum Cajeputi”. Beberapa farmakope klasik dan buku materia medika mencatat minyak cajuput sebagai agens stimulan, antiseptik ringan, dan karminatif, yang digunakan secara luas dalam pengobatan tradisional dan awal farmasi modern.
  • Catatan ilmiah dari periode ini juga menyebutkan bahwa minyak cajuput yang berasal dari wilayah Indonesia, termasuk Sumatra, memiliki kualitas aroma dan kandungan eucalyptol yang tinggi, sehingga dianggap bernilai lebih dibandingkan minyak sejenis dari wilayah lain. Hal ini mendorong pengembangan produksi minyak cajuput secara lebih sistematis, termasuk penerapan teknik destilasi uap yang lebih terkontrol.

Peran Sumatra dalam Produksi dan Perdagangan Minyak Cajuput

  • Sumatra tercatat sebagai salah satu wilayah penting dalam sejarah produksi minyak cajuput di Indonesia, selain Maluku. Kondisi ekologis Sumatra yang mendukung pertumbuhan Melaleuca leucadendra, terutama di dataran rendah dan daerah rawa, menjadikan wilayah ini strategis sebagai sumber bahan baku. Minyak cajuput dari Sumatra kemudian menjadi bagian dari komoditas perdagangan regional, digunakan baik untuk kebutuhan lokal maupun ekspor dalam skala terbatas.
  • Literatur kolonial dan laporan botani mencatat bahwa minyak cajuput dari Sumatra dimanfaatkan dalam berbagai formulasi, termasuk liniment, balsem, dan sediaan aromatik, yang digunakan di lingkungan tropis untuk menjaga kenyamanan tubuh dan kesehatan dasar.

Transisi ke Penggunaan Modern dan Pengakuan Ilmiah

  • Memasuki abad ke-20, minyak cajuput mulai diteliti secara lebih mendalam menggunakan pendekatan kimia modern. Analisis fitokimia dan kromatografi mengonfirmasi keberadaan 1,8-cineole sebagai komponen utama, yang menjelaskan secara ilmiah berbagai penggunaan tradisional minyak ini. Sejak saat itu, minyak cajuput tidak hanya dipandang sebagai produk tradisional, tetapi juga sebagai bahan baku industri farmasi, kosmetik, dan aromaterapi.

Dalam konteks modern, Cajuput (Sumatra) Essential Oil digunakan sebagai:

  • Bahan aktif dalam produk perawatan tubuh
  • Komponen aromaterapi berbasis bukti ilmiah
  • Bahan pendukung dalam formulasi farmasi tradisional dan modern

Sejarah panjang minyak cajuput, dari penggunaan tradisional hingga pengakuan ilmiah global, mencerminkan kontinuitas pengetahuan lokal yang diperkuat oleh validasi ilmiah. Hal ini menjadikan Cajuput (Sumatra) Essential Oil sebagai salah satu minyak atsiri Nusantara dengan nilai historis, ilmiah, dan ekonomi yang signifikan.

KUNJUNGI TOKO ONLINE KAMI:

Spesifikasi
Sumber bahan baku

Sumber bahan: Daun segar dan ranting/daun kering kayu putih Sumatra (Melaleuca Leucadendra (L.) L.)

Asal: Aceh - Indonesia

Penanaman

Tanaman dibudidayakan dan/atau dipanen dari wilayah tropis Sumatra dengan kondisi dataran rendah hingga rawa, sesuai habitat alami Melaleuca leucadendra.

Isi

1,8-Cineole (Eucalyptol), α-Terpineol, Limonene

Organoleptik
  • Warna: Jernih hingga kuning pucat
  • Aroma: Segar, tajam, kamferaseus, khas eucalyptol, memberikan sensasi hangat dan bersih
Solubility

Larut dalam alcohol dan fixed oil, tidak larut dalam air

Level of note

Top note

Blend well

Eucalyptus oil, Tea tree oil, Peppermint oil, Lavender oil, Rosemary oil, Lemongrass oil

Aplikasi produk hilir

Aromatherapy, Natural Perfumery, Toiletries, Natural Cosmetics, Herbal Pharmacy, Body/Skin Care, Personal Care, Home Care, and other derivative products

Umur Simpan

5 tahun

Instruksi penyimpanan
  • Simpan di tempat sejuk, kering, dan gelap, jauh dari sinar matahari langsung.
  • Tutup botol rapat setelah digunakan untuk menjaga kualitas aroma dan kestabilan minyak.
  • Suhu ideal penyimpanan: 15–25°C.
  • Hindari kontaminasi dengan air atau bahan kimia lain.
Alergi dan tindakan pencegahan umum
  • Lakukan patch test sebelum pemakaian luas pada kulit: oleskan sedikit di area kecil selama 24 jam, perhatikan reaksi iritasi.
  • Hentikan pemakaian jika muncul ruam, gatal, kemerahan, atau sensasi terbakar.
  • Tidak dianjurkan digunakan langsung pada kulit tanpa diencerkan (disarankan 1–5% dalam carrier oil atau formula parfum).
  • Hindari kontak dengan mata, membran mukosa, dan area sensitif.
  • Tidak dianjurkan untuk bayi, anak-anak, wanita hamil, atau menyusui tanpa konsultasi profesional.
  • Simpan jauh dari jangkauan anak-anak dan hewan peliharaan.

Tulis ulasan