Produk
bukan obat. Tidak menggantikan diagnosa atau terapi medis. Hasil penggunaan
bisa berbeda pada tiap individu.
Sertifikat Halal: 33110034666001125
Dokumen Pendukung untuk Ekspor
- Certificate of Analysis (COA)
- Material Safety Data Sheet (MSDS)
- Phytosanitary Certificate
- Sertifikat Halal
- Sertifikasi CITES (permintaan untuk ekspor spesies dilindungi)
- Soybeans: Chemistry, Technology, and Utilization
- Allergenicity of Refined Vegetable Oils
- Factors Affecting Tocopherol Concentrations in Soybean Seeds
- Consumption of High-Oleic Soybean Oil Improves Lipid and Lipoprotein Profile in Humans
- Soybean Oil Is Not Allergenic to Soybean-Sensitive Individuals
- Assessment Report: Soybean Oil
- Soybean Allergy and Highly Refined Soybean Oil
- Morphological Attributes of Glycine max (Soybean)
- Soybean Oil Injectable Emulsion – FDA Drug Label
- Standard Specification of RBD Soybean Oil
- Determination of Peroxide Value in Oils and Fats
- Safety Assessment of Glycine Soja (Soybean) Oil
- Soybeans: Post-Harvest Operations
- Standard for Named Vegetable Oils (CODEX STAN 210-1999)
- Recent Advances in Soybean Oil Processing and Applications.
- Assessment of Soybean Oil Oxidative Stability from Minor Components Profile
- OECD–FAO Agricultural Outlook 2021–2030
- Vegetable Oil Refining and Oxidative Stability
- Lipid-Based Excipients and Emulsions in Pharmaceutical Applications
- Highly Refined Soybean Oil Is Not Allergenic
- Soybean Crushing and Oil Processing
- Glycine Soja (Soybean) Oil – INCI Ingredient Overview
A.
Kegunaan dalam Industri Pangan
Minyak goreng dan minyak masak serbaguna
- Minyak kedelai RBD digunakan luas untuk menggoreng, menumis, dan memanggang
karena memiliki rasa netral, warna cerah, serta titik asap yang cukup tinggi
untuk aplikasi rumah tangga dan industri pangan. Proses RBD menghilangkan
senyawa volatil penyebab bau dan rasa, sehingga tidak memengaruhi karakter
sensorik makanan.
Bahan baku margarin, shortening, dan lemak pangan
- Minyak kedelai sering digunakan sebagai bahan dasar margarin dan shortening
setelah proses modifikasi (misalnya interesterifikasi), karena profil asam
lemaknya mendukung tekstur plastis yang diinginkan dalam produk bakery dan
confectionery.
Komponen minyak salad dan saus emulsi
- Sifat emulsi yang stabil serta rasa netral menjadikan minyak kedelai RBD cocok
sebagai fase minyak utama dalam salad dressing, mayones, dan saus berbasis
emulsi.
Bahan tambahan pada pangan olahan
- Digunakan dalam mi instan, biskuit, makanan ringan, dan produk pangan
ultra-proses sebagai sumber lemak nabati dan pembawa flavor.
B.
Kegunaan dalam Industri Farmasi
Bahan emulsi lipid untuk nutrisi parenteral
- Minyak kedelai RBD digunakan sebagai sumber lemak dan asam lemak esensial dalam
emulsi lipid intravena (misalnya pada produk nutrisi parenteral), karena
kemurniannya tinggi dan kandungan protein alergeniknya sangat rendah setelah
pemurnian.
Eksipien dalam formulasi injeksi dan sediaan oral
- Minyak kedelai digunakan sebagai pelarut lipofilik dan fase minyak dalam emulsi
obat tertentu (contoh: emulsi propofol), berfungsi sebagai pembawa zat aktif.
Carrier oil untuk bahan aktif lipofilik
- Digunakan sebagai media pelarut vitamin larut lemak (A, D, E, K) dan senyawa
farmasi non-polar.
C.
Kegunaan dalam Industri Kosmetik dan Perawatan Pribadi
Emolien dan pelembap kulit
- Minyak kedelai RBD berfungsi sebagai emolien alami yang membantu menjaga
kelembapan kulit dan meningkatkan elastisitas dengan membentuk lapisan
pelindung pada permukaan kulit.
Carrier oil dalam formulasi kosmetik
- Digunakan dalam krim, lotion, body oil, sabun cair, dan produk rambut sebagai
pembawa bahan aktif karena stabilitas dan kompatibilitasnya dengan kulit.
Bahan pendukung anti-aging dan perawatan kulit sensitif
- Kandungan tokoferol alami dan asam lemak tak jenuh mendukung fungsi barrier kulit dan membantu mengurangi kekeringan serta iritasi ringan.
D.
Kegunaan dalam Industri Lain
- Oleokimia
dan sabun – bahan baku sabun, surfaktan, dan pelumas ringan.
- Biodiesel – digunakan sebagai feedstock biodiesel karena ketersediaannya tinggi dan profil trigliseridanya sesuai.
- Industri
pangan fungsional dan nutraseutikal – sebagai sumber lipid
nabati dan asam lemak esensial.
1.
Minyak Goreng Nabati Serbaguna (Edible Cooking Oil)
Tujuan
formulasi
Sebagai
minyak goreng netral untuk pengolahan pangan rumah tangga dan industri.
Komposisi
(100%)
Soybean
Grade A RBD Oil : 100%
Cara
pembuatan (industri)
- Minyak
kedelai hasil proses RBD difiltrasi akhir (polishing filtration).
- Dilakukan
kontrol kualitas (FFA, PV, warna, bau).
- Minyak
dikemas dalam kondisi inert (nitrogen flushing) untuk mencegah oksidasi.
Cara
pemakaian
Digunakan
langsung untuk menggoreng, menumis, atau sebagai bahan baku produk pangan
olahan.
Keamanan
& pengujian mutu
- Uji
Asam Lemak Bebas (FFA)
- Uji
Peroksida (PV)
- Uji
stabilitas oksidatif
- Uji
sensori (bau & warna)
2.
Formulasi Mayonnaise / Salad Dressing (Emulsi O/W)
Fungsi
produk
Saus
emulsi untuk pangan siap konsumsi.
Komposisi
(perkiraan % b/b)
- Soybean
RBD Oil : 60–70% (fase minyak)
- Air
: 20–30%
- Kuning
telur / lesitin : 3–5% (emulsifier)
- Cuka
/ jus lemon : 2–4%
- Gula
& garam : secukupnya
Cara
pembuatan
- Campur
fase air (air, cuka, bumbu).
- Tambahkan
emulsifier, aduk homogen.
- Masukkan
minyak kedelai perlahan sambil dihomogenisasi hingga terbentuk emulsi stabil.
Cara
pemakaian
Sebagai
saus salad, sandwich, dan produk pangan siap saji.
Pengamanan
& pengujian
- Uji
stabilitas emulsi
- Uji
mikrobiologi
- Uji
pH (target ±3,5–4,5)
B.
FORMULASI INDUSTRI FARMASI & NUTRISI
3.
Emulsi Lipid Nutrisi (Skala Industri / Klinik)
Fungsi
produk
Sumber
energi dan asam lemak esensial untuk nutrisi parenteral.
Komposisi
umum (contoh literatur)
- Soybean
RBD Oil : 10–20%
- Lesitin
fosfolipid : 1–2%
- Gliserol
: 2–3%
- Air
untuk injeksi : ad 100%
Cara
pembuatan (ringkas)
- Fase
minyak (minyak + lesitin) dipanaskan ringan.
- Fase
air (air + gliserol) disiapkan terpisah.
- Homogenisasi
tekanan tinggi hingga terbentuk emulsi steril.
Cara
pemakaian
Digunakan
hanya di bawah pengawasan medis melalui jalur intravena.
Pengamanan
& pengujian wajib
- Ukuran
globul lemak
- Uji
sterilitas & endotoksin
- Stabilitas
emulsi
- Uji
pH & osmolaritas
Catatan:
Formulasi ini tidak untuk produksi rumahan.
C.
FORMULASI KOSMETIK & PERSONAL CARE
4.
Body Massage Oil / Carrier Oil Aromaterapi (Personal & UMKM)
Fungsi
produk
Minyak
pijat dan carrier oil minyak atsiri.
Komposisi
- Soybean
RBD Oil : 90–95%
- Essential
oil pilihan : 5–10%
Cara
pembuatan
- Campurkan
minyak kedelai dengan essential oil.
- Aduk
perlahan hingga homogen.
- Simpan
dalam botol gelap.
Cara
pemakaian
Dioleskan
ke kulit sambil dipijat ringan.
Keamanan
- Patch
test sebelum penggunaan
- Hindari
area luka terbuka
5.
Lotion Pelembap Kulit (Emulsi O/W)
Komposisi
(% b/b)
- Soybean
RBD Oil : 10–15%
- Emulsifier
(mis. glyceryl stearate) : 4–6%
- Air
suling : 70–80%
- Humektan
(gliserin) : 3–5%
- Pengawet
kosmetik : sesuai regulasi
Cara
pembuatan
- Panaskan
fase minyak dan fase air terpisah (±70°C).
- Campurkan
fase minyak ke fase air sambil dihomogenisasi.
- Dinginkan
sambil diaduk hingga terbentuk lotion.
Cara
pemakaian
Digunakan
pada kulit kering setelah mandi.
Pengamanan
& pengujian
- Uji
stabilitas suhu
- Uji
pH (target 5–6)
- Uji
iritasi kulit ringan
D.
FORMULASI FUNGSIONAL & INDUSTRI LAIN
6.
Sabun Nabati Berbasis Minyak Kedelai
Fungsi
Pembersih kulit berbasis lemak nabati.
Komposisi
dasar
- Soybean
RBD Oil
- Minyak
pendukung (opsional: kelapa/sawit)
- NaOH
(saponifikasi)
- Air
Cara
pembuatan
Melalui
proses cold process atau hot process sesuai standar pembuatan
sabun.
Pengujian
- Uji
pH akhir
- Uji
kekerasan dan busa
- Uji
iritasi
CATATAN
ILMIAH PENTING
Minyak
kedelai RBD dipilih dalam formulasi karena kemurnian tinggi, bau netral,
stabilitas baik, dan kandungan asam lemak esensial.
Formulasi
di atas selaras dengan praktik yang dilaporkan dalam jurnal pangan, farmasi,
dan kosmetik internasional.
Untuk
produksi komersial, wajib mengikuti BPOM, Codex Alimentarius, dan
standar GMP.
A.
Mendukung Kesehatan Kardiovaskular
- Minyak
kedelai kaya asam lemak tak jenuh ganda (PUFA), terutama asam linoleat
(omega-6), yang terbukti membantu menurunkan kadar kolesterol LDL ketika
menggantikan lemak jenuh dalam diet.
- Studi
klinis menunjukkan bahwa konsumsi minyak kedelai dalam pola makan seimbang
berhubungan dengan penurunan risiko penyakit jantung koroner.
B.
Sumber Asam Lemak Esensial
- Asam
linoleat yang terkandung dalam minyak kedelai merupakan asam lemak esensial
yang tidak dapat disintesis oleh tubuh dan berperan dalam fungsi membran sel,
sistem imun, serta regulasi metabolisme lipid.
C.
Aktivitas Antioksidan Alami
- Minyak
kedelai RBD masih mengandung tokoferol (vitamin E) yang berfungsi
sebagai antioksidan, membantu melindungi sel dari stres oksidatif dan
peroksidasi lipid.
- Vitamin
E juga berperan dalam menjaga stabilitas minyak dan memberikan manfaat biologis
saat dikonsumsi.
D.
Manfaat Dermatologis (Topikal)
- Aplikasi
topikal minyak kedelai membantu memperbaiki fungsi skin barrier,
meningkatkan hidrasi kulit, dan mengurangi kehilangan air transepidermal
(TEWL).
- Digunakan
secara luas dalam produk perawatan kulit untuk kulit kering, sensitif, dan
matang.
E.
Keamanan bagi Individu dengan Alergi Kedelai
- Minyak kedelai yang telah melalui proses pemurnian tinggi (RBD) mengandung protein sisa yang sangat rendah dan umumnya tidak memicu reaksi alergi pada individu dengan alergi kedelai, meskipun kehati-hatian tetap dianjurkan pada kasus sensitivitas berat.
SOYBEAN
GRADE A RBD OIL / MINYAK RBD KEDELAI By DDISTILLERS
Merk: DDistillers
INCI
name: Glycine Soja (Soybean) Oil
Kategori Produk: Single RBD oil, purity: 100%
HS
Code: 15079020
CAS#:
8001-22-7
FEMA#: -
Metode ekstraksi: Minyak kedelai ekstraksi pelarut dilanjutkan proses RBD (Refined, Bleached, Deodorized)
DESKRIPSI
PRODUK
Minyak
kedelai RBD (Refined, Bleached, Deodorized) Grade A merupakan minyak nabati
berkualitas tinggi yang diperoleh dari biji kedelai (Glycine max (L.)
Merr.) melalui proses ekstraksi pelarut (heksana) diikuti dengan tiga tahap
pemurnian utama: rafinasi, pemucatan (bleaching), dan deodorisasi.
Proses RBD ini dirancang untuk menghilangkan kotoran, asam lemak bebas, pigmen,
fosfolipid, dan komponen yang menghasilkan rasa atau aroma tidak diinginkan,
sehingga produk akhir menjadi sangat cocok untuk digunakan dalam berbagai
aplikasi pangan, farmasi, dan kosmetik. Minyak yang dihasilkan umumnya berwarna
kuning pucat hingga kuning bersih, memiliki bau netral, dan rasa hambar atau
sangat ringan karakteristik penting bagi industri yang membutuhkan minyak
dengan sensori minimal agar tidak memengaruhi produk akhir.
Dari
sisi organoleptik, minyak RBD kedelai Grade A tampil sebagai cairan yang
transparan hingga sedikit cerah dengan warna kuning muda yang konsisten. Dalam
uji rasa dan aroma, minyak ini digambarkan memiliki aroma bersih dan netral
tanpa bau “off-odor” atau rasa yang mencolok, sehingga ideal sebagai minyak
goreng atau sebagai bahan baku dalam emulsifikasi makanan dan produk kosmetik
yang memerlukan carrier oil tidak beraroma. Nilai sensori ini sangat penting
terutama dalam produk-produk seperti salad dressing, saus, margarin, atau
produk farmasi yang tidak diinginkan adanya kontaminasi bau atau rasa dari
minyak itu sendiri.
Komposisi
kimianya didominasi oleh trigliserida dari asam lemak tak jenuh, khususnya asam
linoleat (C18:2), asam oleat (C18:1), dengan proporsi asam lemak
jenuh seperti asam palmitat (C16:0) dan asam stearat (C18:0).
Proporsi asam lemak ini memberikan minyak kedelai karakter lemak nabati yang
sehat sekaligus kemampuan fungsional yang baik, seperti titik asap yang layak
untuk memasak serta profil tekstur yang baik dalam formulasi makanan dan
kosmetik.
BOTANIKAL
DAN MORFOLOGI:
Tanaman
kedelai secara ilmiah dikenal dengan nama Glycine max (L.) Merr.
dan merupakan salah satu spesies penting dari famili Fabaceae
(legum-legum) dengan siklus hidup sebagai tanaman semusim yang banyak
dibudidayakan di daerah tropis hingga subtropis di seluruh dunia. Kedelai
termasuk dalam kelas Dicotyledonae, ordo Fabales, genus Glycine,
dan spesies Glycine max berdasarkan taksonomi botani yang diterima
secara ilmiah. Nama botani ini distandarkan sejak pertengahan abad ke-20
melalui konsensus nomenklatur tanaman ilmiah.
1.
Klasifikasi Taksonomi
Menurut
klasifikasi botani yang umum digunakan dalam literatur agronomi dan botani,
kedelai memiliki susunan taksonomi sebagai berikut:
- Kingdom:
Plantae (tumbuhan)
- Divisi/Subdivisi:
Spermatophyta/Angiospermae (tumbuhan berpembuluh berbunga)
- Kelas:
Dicotyledonae
- Ordo:
Fabales
- Famili:
Fabaceae (atau Leguminosae)
- Genus: Glycine
- Spesies: Glycine
max (L.) Merr.
Tanaman
ini merupakan leguminosae yang penting secara agronomi dan ekonomi
karena kemampuan biologisnya untuk berasosiasi dengan bakteri penambat nitrogen
(Rhizobium spp.) di dalam bintil akar, yang meningkatkan kesuburan tanah
melalui fiksasi nitrogen atmosfer secara biologis.
2.
Ciri Morfologi Utama Tanaman Kedelai
Akar
- Kedelai
memiliki sistem perakaran akar tunggang (taproot) yang berkembang ke
dalam tanah dengan akar-akar cabang yang bercabang banyak, berfungsi untuk
menyerap air dan nutrisi secara efisien. Pada akar tersebut sering timbul bintil-bintil
akar yang mengandung bakteri fiksasi nitrogen (Rhizobium), yang
membantu tanaman dalam menyerap nitrogen udara untuk kebutuhan nutrisi sendiri
sekaligus memperbaiki kesuburan tanah.
Batang
- Batang
tanaman kedelai bersifat tegak, bertekstur herba, dan bertumbuh dari
permukaan tanah ke atas. Tinggi tanaman dapat bervariasi antar varietas,
umumnya di kisaran 10–200 cm tergantung genetik, kondisi lingkungan, dan
praktik budidaya. Batangnya sering bercabang seiring perkembangan vegetatif
tanaman.
Daun
- Daun
kedelai tersusun secara majemuk trifoliat terdiri dari tiga helai daun
yang terhubung pada satu titik pada tangkai daun utama. Daun-daun ini berwarna
hijau, bentuknya bervariasi dari oval hingga lancip tergantung varietas dan
tahap pertumbuhan. Daun yang sehat juga mengandung stomata untuk pertukaran gas
dan fotosintesis aktif.
Bunga
- Tanaman
kedelai menghasilkan bunga kecil yang umumnya berwarna putih, merah muda,
atau ungu tergantung varietasnya. Bunga-bunga ini muncul di ketiak daun dan
merupakan bunga sempurna (hermaprodit), meskipun bijinya sering berkembang
melalui penyerbukan sendiri (autogami). Walaupun tidak memerlukan
penyerbukan silang, bunga kedelai tetap menarik serangga karena produksi nektar
yang relatif manis.
Polong
dan Biji
- Setelah
penyerbukan dan pembuahan, bunga berkembang menjadi polong (legume) yang
mengandung beberapa biji. Polong biasanya berukuran beberapa sentimeter,
berwarna hijau saat masih muda, dan berubah menjadi kuning atau cokelat saat
matang. Setiap polong biasanya berisi 2–4 biji, yang merupakan bagian
tanaman yang paling ekonomis karena kandungan protein dan minyaknya tinggi.
Warna kulit biji berkisar dari kuning hingga hitam tergantung varietas.
3.
Pertumbuhan dan Anatomi Vegetatif
Tanaman
kedelai umumnya tumbuh lebih cepat pada fase vegetatif awal setelah
perkecambahan, dengan akar, batang, dan daun berkembang untuk mendukung
fotosintesis maksimal. Fase vegetatif ini dipengaruhi oleh kondisi lingkungan
seperti intensitas cahaya, kelembapan tanah, dan nutrisi. Penelitian
menunjukkan bahwa intensitas cahaya dapat memengaruhi tinggi tanaman, jumlah
daun, dan ukuran daun di fase awal pertumbuhan, meskipun struktur dasar daun
dan jaringan stomata relatif stabil pada berbagai kondisi cahaya.
SEJARAH
DAN PENGGUNAAN
Minyak
kedelai (soybean oil) sebagai salah satu minyak nabati bersejarah
panjang penggunaan dalam peradaban manusia modern memiliki akar lebih dari
3.000 tahun yang lalu di Tiongkok kuno, di mana biji kedelai pertama kali
dibudidayakan dan diproses untuk diambil minyaknya untuk memasak serta sebagai
bahan energi (misalnya minyak lampu) selain sebagai sumber protein. Dalam
sumber sejarah pertanian tradisional, biji kedelai digunakan untuk menghasilkan
bean oil (“dou-you”) yang dikenal dalam literatur Tiongkok sejak abad
ke-11 Masehi, yang menunjukkan bahwa minyak kedelai digunakan secara lokal
untuk konsumsi dan kegunaan domestik sejak zaman kuno.
Namun,
pemanfaatan kedelai dalam skala industri modern dimulai jauh lebih
akhir, yakni pada awal abad ke-20 di Eropa dan Amerika Serikat, ketika
industri penggilingan kedelai mulai berkembang seiring tumbuhnya permintaan
global akan lemak nabati serta peningkatan produksi kedelai sebagai komoditi
pertanian. Sekitar tahun 1907, negara-negara seperti Inggris dan Jerman mulai
mengembangkan industri pengepresan kedelai untuk mengambil minyak dan bungkilnya,
diikuti oleh Amerika Serikat yang menjelma menjadi pemimpin industri
pengolahan kedelai dunia sebelum dan selama Perang Dunia II.
Periode
1930–1950 menjadi era penting bagi minyak kedelai: pertama kali
diproduksi secara intensif dengan metode ekstraksi pelarut (seperti heksana)
dan penyulingan, yang kemudian melalui proses pemurnian lanjutan yaitu RBD
(Refining, Bleaching, Deodorizing) untuk menghasilkan minyak yang aman,
netral rasa, berwarna jelas, dan stabil bagi konsumsi manusia serta penggunaan
industri. Metode RBD ini dibuat untuk menghilangkan zat-zat bebas, pigmen, dan
senyawa penyebab rasa atau bau yang tidak diinginkan, sehingga minyak dapat
diterima secara luas oleh konsumen dan produsen pangan.
Sejak
tahun 1950-an hingga 1980, minyak kedelai semakin dominan dalam pasar
minyak nabati global karena kombinasi produksi kedelai yang meningkat pesat,
permintaan konsumen akan lemak nabati sehat, serta kemajuan teknologi
pengolahan minyak. Pada tahun 1966, menurut laporan statistik global, minyak
kedelai mengungguli mentega sebagai sumber lemak yang paling banyak
dikonsumsi secara global, mencerminkan perubahan pola konsumsi dari lemak
hewani ke lemak nabati. Dalam dekade-dekade berikutnya, produksi dan konsumsi
minyak kedelai terus meningkat secara signifikan dan telah menjadikannya
sebagai salah satu minyak nabati paling dominan di dunia hingga saat ini.
Penggunaan
minyak kedelai RBD Grade A bermula dari kebutuhan industri pangan dengan
karakter netral rasa dan bau, sehingga cocok untuk berbagai aplikasi kuliner
seperti minyak goreng, margarin, shortening, serta sebagai bahan baku salad dan
aditif makanan olahan. Selain aplikasi pangan, minyak kedelai RBD juga
mendapatkan peran penting dalam industri non-pangan, termasuk kosmetik
(sebagai emolien atau carrier oil), farmasi (misalnya dalam formulasi emulsi
lipid untuk nutrisi parenteral), serta industri bahan kimia ringan seperti
sabun dan pelumas, menunjukkan fleksibilitas penggunaannya dari komoditas
pangan sampai produk industri lainnya.
Secara
umum, transformasi kedelai dari tanaman agraris tradisional menjadi
komoditas minyak nabati industri modern tidak hanya didorong oleh kebutuhan
pangan, tetapi juga oleh perkembangan teknologi pengolahan minyak dan perubahan
pola konsumsi global. Pemurnian minyak melalui proses RBD menjadi kunci
dalam evolusi ini karena memungkinkan minyak kedelai memenuhi standar mutu
pangan serta kebutuhan aplikatif di luar konsumsi langsung.
| Spesifikasi | |
|---|---|
| Sumber bahan baku | Sumber bahan: Minyak biji kedelai crude Origin: Indonesia |
| Penanaman | Dipanen secara konvensional dan ditanam kembali secara berkala agar berkelanjutan |
| Organoleptik |
|
| Solubility | Tidak larut dalam air, tetapi larut dalam alkohol (seperti etanol), minyak esensial, minyak pembawa, dan pelarut organik. |
| Blend well | Carrier oil, essential oil, wax, bahan aktif kosmetik oil-soluble, surfaktan non-ionik. |
| Aplikasi produk hilir | Edible
Application, Cosmetics and Personal Care Formulation |
| Umur Simpan | 2 tahun |
| Instruksi penyimpanan |
|
| Alergi dan tindakan pencegahan umum |
|



