Produk bukan obat. Tidak menggantikan diagnosa atau terapi medis. Hasil penggunaan bisa berbeda pada tiap individu.

Sertifikat Halal:  33110034666001125

Dokumen Pendukung untuk Ekspor

  • Certificate of Analysis (COA)
  • Material Safety Data Sheet (MSDS)
  • Phytosanitary Certificate
  • Sertifikat Halal 
  • Sertifikasi CITES (permintaan untuk ekspor spesies dilindungi)

7.1. Formulasi 1 — Antibacterial Facial Toner (Natural Acne Toner)

Tujuan:
Membantu membersihkan wajah, mengontrol minyak berlebih, dan mencegah pertumbuhan bakteri penyebab jerawat secara alami.

Komposisi:

Bahan

Konsentrasi (%)

Fungsi

Hydrosol Shallot (Allium ascalonicum L.)

80.0

Fase air utama, antibakteri & antiinflamasi

Aloe vera extract

3.0

Soothing agent, hidrasi kulit

Witch hazel extract

5.0

Astringen alami, penyempit pori

Glycerin (vegetal origin)

2.0

Humektan alami

Panthenol (Vitamin B5)

0.5

Regenerasi kulit & hidrasi

Phenoxyethanol & Ethylhexylglycerin

0.8

Pengawet broad-spectrum

Citric acid / Sodium citrate

qs

Penyesuaian pH (4.5–5.0)

Air deionisasi

ad 100%

Pelarut tambahan

Metode:

  1. Campurkan hydrosol, ekstrak herbal, dan bahan aktif dalam wadah steril.
  2. Aduk hingga homogen di bawah kondisi aseptik.
  3. Saring (0.22 Ξm filter), kemudian kemas dalam botol kaca gelap.

7.2. Formulasi 2 — Natural Hair Tonic (Stimulating Scalp Spray)

Tujuan:
Menstimulasi pertumbuhan rambut, memperkuat folikel, dan menjaga kesehatan kulit kepala.

Komposisi:

Bahan

Konsentrasi (%)

Fungsi

Hydrosol Shallot

75.0

Antibakteri & sirkulasi kulit kepala

Green tea extract

3.0

Antioksidan & proteksi rambut

Glycerin

2.0

Humektan

Niacinamide (Vitamin B3)

2.0

Menstimulasi sirkulasi darah di kulit kepala

Panthenol

1.0

Pelembap dan perbaikan rambut

Menthol

0.2

Efek pendingin alami

Preservative (Leuconostoc/Radish Root Ferment Filtrate)

0.6

Pengawet alami

Air deionisasi

ad 100%

Pelarut tambahan

Metode:
Campurkan semua bahan pada suhu ruang, aduk homogen, dan kemas dalam botol semprot steril (amber spray).


7.3. Formulasi 3 — Antimicrobial Room & Linen Spray

Tujuan:
Sebagai penyegar ruangan dan penghambat pertumbuhan mikroorganisme pada udara atau permukaan kain.

Komposisi:

Bahan

Konsentrasi (%)

Fungsi

Hydrosol Shallot

90.0

Antimikroba alami

Ethanol 95% (food/cosmetic grade)

5.0

Pelarut volatil & desinfektan

Glycerin

1.0

Humektan untuk tekstil

Essential oil citronella/lavender (opsional)

0.3

Aroma dan efek relaksasi

Disodium EDTA

0.1

Stabilizer ion logam

Pengawet alami (Gluconolactone & Sodium benzoate)

0.6

Pencegah kontaminasi mikroba

Metode:
Campurkan ethanol dan essential oil terlebih dahulu, lalu tambahkan hydrosol dan bahan lainnya. Aduk homogen dan saring.


7.4. Formulasi 4 — Natural Mouthwash (Hydrosol-Based Oral Rinse)

Tujuan:
Sebagai obat kumur alami dengan efek antibakteri ringan terhadap bakteri penyebab bau mulut (Streptococcus mutans, Porphyromonas gingivalis).

Komposisi:

Bahan

Konsentrasi (%)

Fungsi

Hydrosol Shallot (food-grade)

70.0

Antibakteri & antioksidan

Peppermint hydrosol

20.0

Penyegar napas & aroma

Xylitol

2.0

Pemanis alami & antikariogenik

Aloe vera extract

2.0

Soothing agent

Sodium benzoate (food-grade)

0.5

Pengawet aman pangan

Citric acid

0.05

Penyesuaian pH (6.0–6.5)

Air deionisasi

ad 100%

Pelarut tambahan

Metode:
Campur semua bahan dalam kondisi aseptik, aduk hingga homogen, dan kemas dalam botol steril.


7.5. Formulasi 5 — Functional Herbal Drink (Minuman Fungsional Hydrosol Shallot)

Tujuan:
Sebagai minuman herbal ringan dengan potensi efek imunoprotektif dan antioksidan.

Komposisi:

Bahan

Konsentrasi (%)

Fungsi

Hydrosol Shallot (food-grade)

85.0

Sumber sulfur bioaktif & antioksidan ringan

Lemon juice (fresh)

5.0

Penyeimbang rasa & pH

Madu alami

8.0

Pemanis alami & efek antimikroba

Citric acid

0.05

Penstabil pH (3.5–4.0)

Air mineral steril

ad 100%

Pelarut tambahan

Metode:
Campurkan bahan secara higienis, pasteurisasi ringan (70°C selama 10 menit), kemudian kemas dalam botol kaca steril.


5.1. Aktivitas Antimikroba dan Antiseptik Alami

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ekstrak dan fraksi air Allium ascalonicum memiliki aktivitas antibakteri dan antijamur yang kuat terhadap berbagai mikroorganisme patogen. Oleh karena itu, hydrosol shallot berpotensi digunakan sebagai disinfektan alami, toner antijerawat, atau spray antiseptik ringan tanpa efek samping keras seperti alkohol.


5.2. Aktivitas Antioksidan dan Anti-Penuaan Dini

Komponen fenolik dan flavonoid seperti quercetin, kaempferol, dan S-allyl cysteine memberikan efek antioksidan kuat pada hydrosol shallot. Hal ini mendukung penggunaan hydrosol shallot dalam produk anti-aging, soothing mist, atau perawatan kulit sensitif. Selain itu, aktivitas antioksidan juga berkontribusi terhadap stabilitas mikrobiologis alami produk kosmetik yang mengandung hydrosol ini.


5.3. Aktivitas Antiinflamasi dan Penyembuhan Luka

Dalam studi farmakologi, Hydrosol shallot dapat digunakan sebagai bahan topikal alami untuk mengurangi kemerahan, gatal, dan iritasi kulit, terutama setelah terpapar sinar matahari atau bahan kosmetik agresif.


5.4. Efek Aromaterapi dan Neurofisiologis

Walau aroma hydrosol shallot berbeda dari hydrosol floral, senyawa volatil sulfur (misalnya allyl disulfide dan allyl propyl disulfide) diketahui memberikan efek dekongestan alami dan stimulasi ringan sistem saraf pusat.

  • Menghirup uap hydrosol Allium dilaporkan membantu meredakan sumbatan hidung, sinusitis ringan, dan kelelahan mental.
  • Efek olfaktori sulfurik ringan juga meningkatkan sirkulasi darah dan mendorong relaksasi otot halus pernapasan.

Dengan demikian, hydrosol ini berpotensi digunakan dalam formulasi inhaler herbal atau spray uap alami untuk mendukung terapi respirasi.


5.5. Aktivitas Antijamur dan Antiparasit

Fraksi volatil hydrosol shallot memperlihatkan efek penghambatan terhadap jamur kulit seperti Trichophyton mentagrophytes dan Microsporum canis, serta beberapa parasit mikroskopik.
Efek ini diperkirakan akibat kemampuan senyawa diallyl sulfide untuk mengganggu permeabilitas membran jamur, menjadikannya agen potensial untuk produk antifungal alami ringan seperti foot spray atau body mist herbal.


5.6. Potensi Imunoprotektif dan Antimikroba Pangan

Dalam aplikasi oral atau pangan fungsional, hydrosol shallot dapat berperan sebagai agen imunoprotektif ringan dan pengawet alami. Senyawa fenolik polar yang larut dalam air memperlihatkan kemampuan menghambat oksidasi lipid dan pertumbuhan mikroba dalam produk pangan cair. Oleh sebab itu, hydrosol bawang merah dapat dikembangkan sebagai komponen aktif dalam minuman herbal, sirup, atau mouthwash alami.

4.1. Aplikasi dalam Kosmetika dan Perawatan Kulit

Dalam industri kosmetika alami, hydrosol bawang merah digunakan sebagai bahan aktif fungsional dan pengawet alami berkat kandungan sulfur volatil dan flavonoidnya. Aplikasi topikal hydrosol shallot lebih aman dibanding minyak atsiri karena tidak bersifat fotosensitif dan tidak menimbulkan sensasi panas menyengat di kulit, menjadikannya cocok untuk produk cosmeceutical berbasis bahan alami.


4.2. Aplikasi dalam Aromaterapi dan Kebersihan Lingkungan

  • Dapat digunakan dalam room spray antibakteri, surface sanitizer alami, dan linen mist sebagai alternatif pengganti alkohol sintetis.
  • Kandungan organosulfur seperti diallyl disulfide berperan sebagai repelen alami serangga (terutama nyamuk dan lalat), menjadikannya berguna dalam pembuatan eco-friendly disinfectant sprays.
  • Dalam aromaterapi herbal, hydrosol ini dipercaya membantu meringankan sumbatan sinus dan flu ringan karena uapnya mengandung senyawa volatil sulfur yang bersifat dekongestan alami.

4.3. Aplikasi dalam Pangan dan Pengawetan Alami

  • Dapat digunakan sebagai komponen flavor cair dalam saus, marinasi, atau minuman fungsional berbasis herbal dengan batas penggunaan yang diatur sesuai standar GRAS (Generally Recognized As Safe).
  • Sebagai byproduct valorization, hydrosol ini berperan dalam konsep zero waste distillation, di mana limbah destilasi minyak atsiri dimanfaatkan kembali sebagai bahan aditif atau aroma food-grade.

4.4. Aplikasi dalam Pertanian dan Pengendalian Hayati

  • Hydrosol dapat disemprotkan pada tanaman sebagai larutan antijamur organik yang ramah lingkungan.
  • Kandungan sulfur volatil dan fenolik berfungsi sebagai repelen serangga dan pencegah pembusukan hasil panen.

SHALLOT HYDROSOL / HIDROSOL BAWANG MERAH By DDISTILLERS

Merk: DDistillers

Botanical name: Allium Ascalonicum L.

INCI name: Allium Ascalonicum L. Water

Kategori Produk: Single hydrosols, purity: 100%

HS Code: 33019010

CAS#: 8002-72-0

FEMA#: -

Metode ekstraksi: Destilasi uap


DESKRIPSI PRODUK:

Hydrosol shallot (dikenal juga sebagai shallot hydrolate atau Allium ascalonicum water) merupakan fraksi air aromatik yang diperoleh sebagai hasil samping dari proses destilasi uap (steam distillation) atau destilasi air (hydrodistillation) terhadap umbi bawang merah segar (Allium ascalonicum L.). Proses ini dilakukan untuk mengekstraksi minyak atsiri bawang merah, namun selain menghasilkan minyak, proses destilasi juga menghasilkan lapisan air kondensat yang mengandung senyawa volatil polar dan semi-polar terlarut — inilah yang dikenal sebagai hydrosol.

Dalam proses destilasi, uap panas melewati irisan umbi bawang merah yang mengandung prekursor senyawa sulfur seperti S-alk(en)yl-L-cysteine sulfoxides, yang kemudian terurai menjadi berbagai senyawa volatil seperti dipropyl disulfide, propyl allyl disulfide, methyl propyl disulfide, dan thiophenes. Uap yang membawa senyawa volatil ini kemudian dikondensasikan menjadi dua fase: fase minyak atsiri yang ringan dan fase air aromatik (hydrosol) yang kaya akan senyawa volatil larut air serta beberapa komponen fenolik terlarut.

Hydrosol shallot memiliki profil kimia berbeda dari minyak atsirinya. Jika minyak atsiri didominasi oleh senyawa nonpolar seperti diallyl disulfide dan dipropyl disulfide, maka hydrosol lebih banyak mengandung senyawa polar dan semi-polar seperti sulfur oksida, aldehida, asam organik, serta flavonoid larut air dalam konsentrasi yang rendah (<0,05%). Karena kadar senyawa aktifnya rendah, hydrosol ini lebih lembut dan aman digunakan secara topikal dibanding minyak atsirinya yang bersifat iritatif.

Secara fisikokimia, hydrosol shallot merupakan cairan bening hingga agak keruh, tidak berwarna hingga kekuningan pucat, bergantung pada varietas umbi dan kondisi distilasi. Secara organoleptik, hydrosol shallot memiliki aroma khas Allium yang lembut pedas-manis, sedikit sulfurik namun tidak menyengat seperti bawang mentah. Wangi tersebut berasal dari senyawa volatil seperti dipropyl disulfide dan dimethyl trisulfide yang larut sebagian dalam air selama proses destilasi. Berbeda dengan aroma bawang mentah yang kuat dan menusuk, hydrosol memberikan nuansa aroma “herbal kitchen” yang ringan dan bersih.

Saat diaplikasikan, hydrosol ini memberikan sensasi segar dan hangat di kulit, tanpa meninggalkan rasa berminyak atau lengket. Karena aromanya tidak dominan, hydrosol shallot dapat dikombinasikan dengan hydrosol lain seperti lavender, tea tree, atau rose untuk formulasi toner, mist, atau produk perawatan kulit yang bersifat fungsional (misalnya sebagai clarifying mist atau scalp tonic).


BOTANIKAL DAN MORFOLOGI:

A. Taksonomi Ilmiah

Tingkatan

Klasifikasi

Kingdom

Plantae

Divisi

Magnoliophyta (Angiospermae)

Kelas

Liliopsida (Monocotyledonae)

Ordo

Asparagales

Famili

Amaryllidaceae (subfamili: Allioideae)

Genus

Allium L.

Spesies

Allium ascalonicum L.


B. Deskripsi Umum

Tanaman Allium ascalonicum L., dikenal sebagai bawang merah (shallot), merupakan tanaman herba semusim yang banyak dibudidayakan di daerah tropis dan subtropis, termasuk Indonesia, India, dan Asia Tenggara. Tanaman ini tergolong dalam famili Amaryllidaceae, satu keluarga dengan bawang putih (A. sativum) dan bawang bombay (A. cepa). Shallot ditanam terutama untuk umbinya yang berlapis dan memiliki aroma khas akibat kandungan senyawa organosulfur volatil (terutama diallyl disulfide dan dipropyl disulfide).

Selain sebagai bahan pangan dan bumbu, bawang merah juga memiliki nilai farmakologis tinggi karena mengandung flavonoid (kuersetin), senyawa fenolik, serta sulfur volatil yang menunjukkan aktivitas antimikroba, antioksidan, dan antiinflamasi


C. Morfologi Tanaman

  1. Akar (Radix)
    • Akar serabut, halus, berwarna putih, tumbuh dari dasar umbi.
    • Berfungsi untuk menyerap air dan unsur hara, serta menopang tanaman.
  2. Batang (Caulis)
    • Batang sejati sangat pendek (disc-shaped), terletak di bagian bawah umbi.
    • Batang semu dibentuk oleh pelepah daun yang saling membungkus rapat.
  3. Daun (Folia)
    • Daun berbentuk silindris-hilus (pipa), berwarna hijau mengilap.
    • Panjang daun 20–40 cm, tumbuh tegak atau melengkung ke luar.
    • Mengandung minyak volatil dan enzim alliinase yang aktif bila jaringan rusak.
  4. Umbi (Bulbus)
    • Tersusun atas beberapa siung yang dibungkus kulit kering berwarna merah keunguan.
    • Mempunyai aroma khas akibat pembentukan thiosulfinates saat dipotong.
    • Umbi merupakan bagian utama yang digunakan dalam industri hydrosol dan minyak atsiri.
  5. Bunga (Flos)
    • Tersusun dalam tandan berbentuk umbel di ujung tangkai, berwarna putih hingga ungu muda.
    • Bunga hermafrodit, menghasilkan biji berbentuk bulat kecil berwarna hitam.
  6. Buah dan Biji (Fructus & Semen)
    • Buah berbentuk kapsul kecil berisi biji tunggal.
    • Biji memiliki daya kecambah rendah sehingga perbanyakan lebih sering dilakukan secara vegetatif (umbi siung).

D. Kandungan Kimia Utama

Bawang merah kaya akan senyawa bioaktif, di antaranya:

  • Senyawa sulfur volatil: Diallyl disulfide, Dipropyl disulfide, Propyl allyl disulfide, Methyl propyl disulfide.
  • Flavonoid: Quercetin, Kaempferol.
  • Fenolik & asam organik: Caffeic acid, Ferulic acid, Ascorbic acid.
  • Pigmen alami: Anthocyanin (memberi warna merah keunguan pada kulit umbi).

Kombinasi senyawa tersebut berperan penting dalam aktivitas antioksidan, antimikroba, dan antiinflamasi, serta menentukan aroma khas bawang merah (Mnayer et al., 2014; Najjaa et al., 2007).


SEJARAH DAN PENGGUNAAN

Sejarah penggunaan bawang merah (Allium ascalonicum L.) sebagai bahan aromatik dan terapeutik telah tercatat sejak ribuan tahun yang lalu, terutama di kawasan Mesir Kuno, Timur Tengah, dan Asia Selatan. Catatan tertua menunjukkan bahwa bangsa Mesir dan Babilonia sudah menggunakan umbi bawang merah dan bawang putih sebagai bahan pengawet, obat herbal, serta persembahan religius sejak 3.500 SM (Benkeblia, 2005). Dalam naskah medis Mesir kuno Ebers Papyrus (sekitar 1500 SM), ekstrak air dan uap dari tanaman Allium digunakan untuk mengobati gangguan pencernaan, infeksi, serta penyakit kulit.

Pada masa Yunani dan Romawi Kuno, Allium ascalonicum dikenal dengan nama "Ascalonia cepa" — berasal dari kota pelabuhan Ascalon (sekarang Ashkelon, Israel), yang diyakini sebagai tempat asal spesies ini sebelum menyebar ke Eropa melalui jalur perdagangan Mediterania. Ahli botani Romawi seperti Pliny the Elder mencatat bahwa bawang merah digunakan tidak hanya untuk masakan, tetapi juga sebagai infus aromatik air yang dihirup untuk mengobati pilek dan gangguan pernapasan ringan — bentuk awal yang menyerupai penggunaan hydrosol saat ini.

Konsep hydrosol atau air aromatik dari tanaman Allium mulai dikenal lebih luas sejak pengembangan teknik destilasi sederhana oleh ilmuwan Persia seperti Avicenna (Ibn Sina) pada abad ke-10. Meskipun fokus utama destilasi pada masa itu adalah produksi minyak atsiri dari bahan aromatik seperti mawar dan gaharu, proses serupa juga diterapkan untuk tanaman obat non-floral, termasuk Allium sativum dan Allium ascalonicum, guna memperoleh air aromatik atau hydrolate yang digunakan dalam pengobatan tradisional.

Pada abad ke-16 hingga ke-18, di Asia Tenggara termasuk Indonesia, bawang merah menjadi salah satu tanaman rempah bernilai tinggi yang diperdagangkan. Dalam praktik pengobatan tradisional Nusantara seperti Jamu dan Usada Bali, air rebusan atau hasil kondensasi bawang merah digunakan untuk menurunkan demam, meredakan batuk, mempercepat penyembuhan luka, dan mengusir serangga. Walaupun pada masa itu belum dikenal istilah hydrosol, cara pembuatannya mirip dengan proses distilasi air modern: umbi direbus dalam air tertutup hingga uapnya mengembun menjadi cairan beraroma khas yang dimanfaatkan secara empiris sebagai obat alami.

Dengan berkembangnya teknologi penyulingan di abad ke-19 dan ke-20, terutama di Eropa, hydrosol bawang merah mulai diperoleh sebagai hasil samping dari destilasi minyak atsiri bawang merah (shallot essential oil). Di Sri Lanka, India, dan Indonesia, proses destilasi uap yang digunakan untuk mengekstraksi minyak atsiri menghasilkan fraksi air aromatik yang semula dianggap limbah. Namun penelitian pada dekade terakhir mengungkapkan bahwa fraksi ini masih mengandung senyawa bioaktif seperti dipropyl disulfide, methyl propyl disulfide, dan phenolic acid derivates yang berpotensi antimikroba dan antioksidan.

Dalam konteks modern, hydrosol shallot mulai menarik perhatian dalam industri kosmetika alami, aromaterapi, dan bioteknologi pertanian. Produk ini dipandang sebagai solusi berkelanjutan dalam industri minyak atsiri karena memanfaatkan hasil samping destilasi yang sebelumnya terbuang. Selain itu, hydrosol shallot memiliki profil volatil yang lebih ringan dan aman, sehingga dapat diaplikasikan langsung pada kulit sebagai natural antibacterial mist, hair tonic, atau bahan aktif dalam organic preservative systems.

Dengan demikian, perjalanan hydrosol bawang merah mencerminkan evolusi teknologi dan pemanfaatan bahan alam — dari air rebusan tradisional yang digunakan dalam pengobatan rakyat hingga menjadi produk bernilai tambah berbasis ilmiah yang diakui dalam konsep green chemistry dan zero waste production. Evolusi ini menunjukkan bagaimana sains modern kini mampu menegaskan nilai fungsional dari warisan etnobotani kuno melalui pendekatan ilmiah dan inovasi teknologi penyulingan berkelanjutan.

 

KUNJUNGI TOKO ONLINE KAMI:

Spesifikasi
Sumber bahan baku

Sumber bahan: Umbi bawang merah

Origin: Indonesia

Penanaman

Dipanen secara konvensional dan ditanam kembali secara berkala agar berkelanjutan 

Organoleptik
  • Warna: Cairan bening tidak berwarna hingga keruh
  • Aroma: Khas aroma bawang merah yang ringan
Solubility

Larut dalam air dan alcohol, tidak larut dalam minyak

Blend well

Bisa dicampur dengan hydrosol lain maupun minyak esensial

Aplikasi produk hilir

Cosmetics and Personal Care Formulation 

Umur Simpan

12 bulan

Instruksi penyimpanan
  • Simpan dalam botol kaca gelap, tertutup rapat.
  • Hindari panas & sinar matahari langsung.
  • Suhu ideal: 10–25°C.
  • Gunakan dalam 6–12 bulan setelah dibuka.
Alergi dan tindakan pencegahan umum
  • Lakukan patch test sebelum pemakaian kulit.
  • Jangan gunakan pada mata atau area sensitif.
  • Hentikan penggunaan bila terjadi iritasi.
  • Konsumsi oral hanya bila ada izin resmi.
  • Jauhkan dari jangkauan anak-anak.

Tulis ulasan