Produk
bukan obat. Tidak menggantikan diagnosa atau terapi medis. Hasil penggunaan
bisa berbeda pada tiap individu.
Sertifikat Halal: 33110034666001125
Dokumen Pendukung untuk Ekspor
- Certificate of Analysis (COA)
- Material Safety Data Sheet (MSDS)
- Phytosanitary Certificate
- Sertifikat Halal
- Sertifikasi CITES (permintaan untuk ekspor spesies dilindungi)
7.1.
Formulasi 1 â Antibacterial Facial Toner (Natural Acne Toner)
Tujuan:
Membantu membersihkan wajah, mengontrol minyak berlebih, dan mencegah
pertumbuhan bakteri penyebab jerawat secara alami.
Komposisi:
|
Bahan |
Konsentrasi
(%) |
Fungsi |
|
Hydrosol
Shallot (Allium ascalonicum L.) |
80.0 |
Fase
air utama, antibakteri & antiinflamasi |
|
Aloe
vera extract |
3.0 |
Soothing
agent, hidrasi kulit |
|
Witch
hazel extract |
5.0 |
Astringen
alami, penyempit pori |
|
Glycerin
(vegetal origin) |
2.0 |
Humektan
alami |
|
Panthenol
(Vitamin B5) |
0.5 |
Regenerasi
kulit & hidrasi |
|
Phenoxyethanol
& Ethylhexylglycerin |
0.8 |
Pengawet
broad-spectrum |
|
Citric
acid / Sodium citrate |
qs |
Penyesuaian
pH (4.5â5.0) |
|
Air
deionisasi |
ad
100% |
Pelarut
tambahan |
Metode:
- Campurkan hydrosol, ekstrak herbal,
dan bahan aktif dalam wadah steril.
- Aduk hingga homogen di bawah kondisi
aseptik.
- Saring (0.22 Ξm filter), kemudian
kemas dalam botol kaca gelap.
7.2.
Formulasi 2 â Natural Hair Tonic (Stimulating Scalp Spray)
Tujuan:
Menstimulasi pertumbuhan rambut, memperkuat folikel, dan menjaga kesehatan
kulit kepala.
Komposisi:
|
Bahan |
Konsentrasi
(%) |
Fungsi |
|
Hydrosol
Shallot |
75.0 |
Antibakteri
& sirkulasi kulit kepala |
|
Green
tea extract |
3.0 |
Antioksidan
& proteksi rambut |
|
Glycerin |
2.0 |
Humektan |
|
Niacinamide
(Vitamin B3) |
2.0 |
Menstimulasi
sirkulasi darah di kulit kepala |
|
Panthenol |
1.0 |
Pelembap
dan perbaikan rambut |
|
Menthol |
0.2 |
Efek
pendingin alami |
|
Preservative
(Leuconostoc/Radish Root Ferment Filtrate) |
0.6 |
Pengawet
alami |
|
Air
deionisasi |
ad
100% |
Pelarut
tambahan |
Metode:
Campurkan semua bahan pada suhu ruang, aduk homogen, dan kemas dalam botol
semprot steril (amber spray).
7.3.
Formulasi 3 â Antimicrobial Room & Linen Spray
Tujuan:
Sebagai penyegar ruangan dan penghambat pertumbuhan mikroorganisme pada udara
atau permukaan kain.
Komposisi:
|
Bahan |
Konsentrasi
(%) |
Fungsi |
|
Hydrosol
Shallot |
90.0 |
Antimikroba
alami |
|
Ethanol
95% (food/cosmetic grade) |
5.0 |
Pelarut
volatil & desinfektan |
|
Glycerin |
1.0 |
Humektan
untuk tekstil |
|
Essential
oil citronella/lavender (opsional) |
0.3 |
Aroma
dan efek relaksasi |
|
Disodium
EDTA |
0.1 |
Stabilizer
ion logam |
|
Pengawet
alami (Gluconolactone & Sodium benzoate) |
0.6 |
Pencegah
kontaminasi mikroba |
Metode:
Campurkan ethanol dan essential oil terlebih dahulu, lalu tambahkan hydrosol
dan bahan lainnya. Aduk homogen dan saring.
7.4.
Formulasi 4 â Natural Mouthwash (Hydrosol-Based Oral Rinse)
Tujuan:
Sebagai obat kumur alami dengan efek antibakteri ringan terhadap bakteri
penyebab bau mulut (Streptococcus mutans, Porphyromonas gingivalis).
Komposisi:
|
Bahan |
Konsentrasi
(%) |
Fungsi |
|
Hydrosol
Shallot (food-grade) |
70.0 |
Antibakteri
& antioksidan |
|
Peppermint
hydrosol |
20.0 |
Penyegar
napas & aroma |
|
Xylitol |
2.0 |
Pemanis
alami & antikariogenik |
|
Aloe
vera extract |
2.0 |
Soothing
agent |
|
Sodium
benzoate (food-grade) |
0.5 |
Pengawet
aman pangan |
|
Citric
acid |
0.05 |
Penyesuaian
pH (6.0â6.5) |
|
Air
deionisasi |
ad
100% |
Pelarut
tambahan |
Metode:
Campur semua bahan dalam kondisi aseptik, aduk hingga homogen, dan kemas dalam
botol steril.
7.5.
Formulasi 5 â Functional Herbal Drink (Minuman Fungsional Hydrosol Shallot)
Tujuan:
Sebagai minuman herbal ringan dengan potensi efek imunoprotektif dan
antioksidan.
Komposisi:
|
Bahan |
Konsentrasi
(%) |
Fungsi |
|
Hydrosol
Shallot (food-grade) |
85.0 |
Sumber
sulfur bioaktif & antioksidan ringan |
|
Lemon
juice (fresh) |
5.0 |
Penyeimbang
rasa & pH |
|
Madu
alami |
8.0 |
Pemanis
alami & efek antimikroba |
|
Citric
acid |
0.05 |
Penstabil
pH (3.5â4.0) |
|
Air
mineral steril |
ad
100% |
Pelarut
tambahan |
Metode:
Campurkan bahan secara higienis, pasteurisasi ringan (70°C selama 10 menit),
kemudian kemas dalam botol kaca steril.
- https://europepmc.org/article/med/21903379
- https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8659087/
- https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6271055/
- https://www.frontiersin.org/journals/nutrition/articles/10.3389/fnut.2022.903686/full
- https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4463966/
- https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9228356/
- https://www.academia.edu/18671222/Handbook_of_Herbs_and_Spices_Vol_2
- https://www.cabidigitallibrary.org/doi/10.1079/9781845933999.0000
- https://www.aseancosmetics.org/docdocs/AppendixVI.pdf
- https://www.researchgate.net/publication/225510333_Comparative_study_of_antioxidant_capacity_in_organs_of_diffrent_Allium_species
- https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2772275924000625
- https://www.researchgate.net/publication/257228981_Antimicrobial_and_antioxidant_activity_of_extracts_of_Allium_ursinum_L
- https://link.springer.com/article/10.1007/s42452-025-06800-0
- https://www.researchgate.net/publication/317069793_Medicinal_Importance_of_Allium_Species_A_Current_Review
- https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/12236699/
- https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/35170391/
- https://www.researchgate.net/publication/366440577_Review_on_the_Medicinal_uses_and_Safety_Profiles_of_Allium_Sativum_Linn_Garlic
- https://www.yayasanabhipraya.or.id/wp-content/uploads/2020/04/FOOD-CATEGORY-CODEX.pdf
5.1. Aktivitas
Antimikroba dan Antiseptik Alami
Beberapa penelitian
menunjukkan bahwa ekstrak dan fraksi air Allium ascalonicum memiliki aktivitas
antibakteri dan antijamur yang kuat terhadap berbagai mikroorganisme
patogen. Oleh karena itu, hydrosol shallot berpotensi digunakan sebagai disinfektan
alami, toner antijerawat, atau spray antiseptik ringan tanpa
efek samping keras seperti alkohol.
5.2. Aktivitas
Antioksidan dan Anti-Penuaan Dini
Komponen fenolik dan
flavonoid seperti quercetin, kaempferol, dan S-allyl
cysteine memberikan efek antioksidan kuat pada hydrosol shallot. Hal
ini mendukung penggunaan hydrosol shallot dalam produk anti-aging, soothing
mist, atau perawatan kulit sensitif. Selain itu, aktivitas antioksidan juga
berkontribusi terhadap stabilitas mikrobiologis alami produk kosmetik
yang mengandung hydrosol ini.
5.3. Aktivitas
Antiinflamasi dan Penyembuhan Luka
Dalam studi
farmakologi, Hydrosol shallot dapat digunakan sebagai bahan topikal alami
untuk mengurangi kemerahan, gatal, dan iritasi kulit, terutama setelah
terpapar sinar matahari atau bahan kosmetik agresif.
5.4. Efek
Aromaterapi dan Neurofisiologis
Walau aroma hydrosol
shallot berbeda dari hydrosol floral, senyawa volatil sulfur (misalnya allyl
disulfide dan allyl propyl disulfide) diketahui memberikan efek
dekongestan alami dan stimulasi ringan sistem saraf pusat.
- Menghirup uap hydrosol Allium
dilaporkan membantu meredakan sumbatan hidung, sinusitis ringan, dan
kelelahan mental.
- Efek olfaktori sulfurik ringan
juga meningkatkan sirkulasi darah dan mendorong relaksasi otot
halus pernapasan.
Dengan demikian,
hydrosol ini berpotensi digunakan dalam formulasi inhaler herbal atau spray
uap alami untuk mendukung terapi respirasi.
5.5. Aktivitas
Antijamur dan Antiparasit
Fraksi volatil hydrosol
shallot memperlihatkan efek penghambatan terhadap jamur kulit seperti Trichophyton
mentagrophytes dan Microsporum canis, serta beberapa parasit
mikroskopik.
Efek ini diperkirakan akibat kemampuan senyawa diallyl sulfide untuk
mengganggu permeabilitas membran jamur, menjadikannya agen potensial untuk produk
antifungal alami ringan seperti foot spray atau body mist herbal.
5.6. Potensi
Imunoprotektif dan Antimikroba Pangan
Dalam aplikasi oral
atau pangan fungsional, hydrosol shallot dapat berperan sebagai agen
imunoprotektif ringan dan pengawet alami. Senyawa fenolik polar yang
larut dalam air memperlihatkan kemampuan menghambat oksidasi lipid dan
pertumbuhan mikroba dalam produk pangan cair. Oleh sebab itu, hydrosol
bawang merah dapat dikembangkan sebagai komponen aktif dalam minuman herbal,
sirup, atau mouthwash alami.
4.1. Aplikasi dalam
Kosmetika dan Perawatan Kulit
Dalam industri
kosmetika alami, hydrosol bawang merah digunakan sebagai bahan aktif
fungsional dan pengawet alami berkat kandungan sulfur volatil dan
flavonoidnya. Aplikasi topikal hydrosol shallot lebih aman dibanding minyak
atsiri karena tidak bersifat fotosensitif dan tidak menimbulkan sensasi panas
menyengat di kulit, menjadikannya cocok untuk produk cosmeceutical berbasis
bahan alami.
4.2. Aplikasi dalam
Aromaterapi dan Kebersihan Lingkungan
- Dapat digunakan dalam room
spray antibakteri, surface sanitizer alami, dan linen mist
sebagai alternatif pengganti alkohol sintetis.
- Kandungan organosulfur
seperti diallyl disulfide berperan sebagai repelen alami
serangga (terutama nyamuk dan lalat), menjadikannya berguna dalam
pembuatan eco-friendly disinfectant sprays.
- Dalam aromaterapi herbal,
hydrosol ini dipercaya membantu meringankan sumbatan sinus dan flu
ringan karena uapnya mengandung senyawa volatil sulfur yang bersifat
dekongestan alami.
4.3. Aplikasi dalam
Pangan dan Pengawetan Alami
- Dapat digunakan sebagai komponen
flavor cair dalam saus, marinasi, atau minuman fungsional berbasis
herbal dengan batas penggunaan yang diatur sesuai standar GRAS (Generally
Recognized As Safe).
- Sebagai byproduct
valorization, hydrosol ini berperan dalam konsep zero waste
distillation, di mana limbah destilasi minyak atsiri dimanfaatkan
kembali sebagai bahan aditif atau aroma food-grade.
4.4. Aplikasi dalam
Pertanian dan Pengendalian Hayati
- Hydrosol dapat disemprotkan
pada tanaman sebagai larutan antijamur organik yang ramah
lingkungan.
- Kandungan sulfur volatil dan
fenolik berfungsi sebagai repelen serangga dan pencegah
pembusukan hasil panen.
SHALLOT
HYDROSOL / HIDROSOL BAWANG MERAH By DDISTILLERS
Merk:
DDistillers
Botanical
name: Allium Ascalonicum L.
INCI
name: Allium Ascalonicum L. Water
Kategori Produk: Single hydrosols, purity: 100%
HS
Code: 33019010
CAS#:
8002-72-0
FEMA#: -
Metode ekstraksi: Destilasi uap
DESKRIPSI
PRODUK:
Hydrosol
shallot (dikenal juga sebagai shallot hydrolate atau Allium
ascalonicum water) merupakan fraksi air aromatik yang diperoleh
sebagai hasil samping dari proses destilasi uap (steam distillation)
atau destilasi air (hydrodistillation) terhadap umbi bawang merah segar
(Allium ascalonicum L.). Proses ini dilakukan untuk mengekstraksi minyak
atsiri bawang merah, namun selain menghasilkan minyak, proses destilasi juga
menghasilkan lapisan air kondensat yang mengandung senyawa volatil polar dan
semi-polar terlarut â inilah yang dikenal sebagai hydrosol.
Dalam proses
destilasi, uap panas melewati irisan umbi bawang merah yang mengandung
prekursor senyawa sulfur seperti S-alk(en)yl-L-cysteine sulfoxides, yang
kemudian terurai menjadi berbagai senyawa volatil seperti dipropyl
disulfide, propyl allyl disulfide, methyl propyl disulfide, dan thiophenes.
Uap yang membawa senyawa volatil ini kemudian dikondensasikan menjadi dua fase:
fase minyak atsiri yang ringan dan fase air aromatik (hydrosol) yang kaya akan
senyawa volatil larut air serta beberapa komponen fenolik terlarut.
Hydrosol shallot
memiliki profil kimia berbeda dari minyak atsirinya. Jika minyak atsiri
didominasi oleh senyawa nonpolar seperti diallyl disulfide dan dipropyl
disulfide, maka hydrosol lebih banyak mengandung senyawa polar dan
semi-polar seperti sulfur oksida, aldehida, asam organik, serta flavonoid larut
air dalam konsentrasi yang rendah (<0,05%). Karena kadar senyawa
aktifnya rendah, hydrosol ini lebih lembut dan aman digunakan secara topikal
dibanding minyak atsirinya yang bersifat iritatif.
Secara fisikokimia,
hydrosol shallot merupakan cairan bening hingga agak keruh, tidak
berwarna hingga kekuningan pucat, bergantung pada varietas umbi dan kondisi
distilasi. Secara organoleptik, hydrosol shallot memiliki aroma khas Allium
yang lembut pedas-manis, sedikit sulfurik namun tidak menyengat seperti
bawang mentah. Wangi tersebut berasal dari senyawa volatil seperti dipropyl
disulfide dan dimethyl trisulfide yang larut sebagian dalam air
selama proses destilasi. Berbeda dengan aroma bawang mentah yang kuat dan
menusuk, hydrosol memberikan nuansa aroma âherbal kitchenâ yang ringan dan
bersih.
Saat
diaplikasikan, hydrosol ini memberikan sensasi segar dan hangat di kulit,
tanpa meninggalkan rasa berminyak atau lengket. Karena aromanya tidak dominan,
hydrosol shallot dapat dikombinasikan dengan hydrosol lain seperti lavender,
tea tree, atau rose untuk formulasi toner, mist, atau produk perawatan kulit
yang bersifat fungsional (misalnya sebagai clarifying mist atau scalp
tonic).
BOTANIKAL
DAN MORFOLOGI:
A.
Taksonomi Ilmiah
|
Tingkatan |
Klasifikasi |
|
Kingdom |
Plantae |
|
Divisi |
Magnoliophyta
(Angiospermae) |
|
Kelas |
Liliopsida
(Monocotyledonae) |
|
Ordo |
Asparagales |
|
Famili |
Amaryllidaceae
(subfamili: Allioideae) |
|
Genus |
Allium
L. |
|
Spesies |
Allium
ascalonicum L. |
B.
Deskripsi Umum
Tanaman
Allium ascalonicum L., dikenal sebagai bawang merah (shallot),
merupakan tanaman herba semusim yang banyak dibudidayakan di daerah tropis dan
subtropis, termasuk Indonesia, India, dan Asia Tenggara. Tanaman ini tergolong
dalam famili Amaryllidaceae, satu keluarga dengan bawang putih (A.
sativum) dan bawang bombay (A. cepa). Shallot ditanam terutama untuk
umbinya yang berlapis dan memiliki aroma khas akibat kandungan senyawa organosulfur
volatil (terutama diallyl disulfide dan dipropyl disulfide).
Selain
sebagai bahan pangan dan bumbu, bawang merah juga memiliki nilai farmakologis
tinggi karena mengandung flavonoid (kuersetin), senyawa fenolik, serta
sulfur volatil yang menunjukkan aktivitas antimikroba, antioksidan, dan
antiinflamasi
C.
Morfologi Tanaman
- Akar
(Radix)
- Akar
serabut, halus, berwarna putih, tumbuh dari dasar umbi.
- Berfungsi
untuk menyerap air dan unsur hara, serta menopang tanaman.
- Batang
(Caulis)
- Batang
sejati sangat pendek (disc-shaped), terletak di bagian bawah umbi.
- Batang
semu dibentuk oleh pelepah daun yang saling membungkus rapat.
- Daun
(Folia)
- Daun
berbentuk silindris-hilus (pipa), berwarna hijau mengilap.
- Panjang
daun 20â40 cm, tumbuh tegak atau melengkung ke luar.
- Mengandung
minyak volatil dan enzim alliinase yang aktif bila jaringan rusak.
- Umbi
(Bulbus)
- Tersusun
atas beberapa siung yang dibungkus kulit kering berwarna merah keunguan.
- Mempunyai
aroma khas akibat pembentukan thiosulfinates saat dipotong.
- Umbi
merupakan bagian utama yang digunakan dalam industri hydrosol dan minyak
atsiri.
- Bunga
(Flos)
- Tersusun
dalam tandan berbentuk umbel di ujung tangkai, berwarna putih
hingga ungu muda.
- Bunga
hermafrodit, menghasilkan biji berbentuk bulat kecil berwarna hitam.
- Buah
dan Biji (Fructus & Semen)
- Buah
berbentuk kapsul kecil berisi biji tunggal.
- Biji
memiliki daya kecambah rendah sehingga perbanyakan lebih sering dilakukan
secara vegetatif (umbi siung).
D.
Kandungan Kimia Utama
Bawang
merah kaya akan senyawa bioaktif, di antaranya:
- Senyawa
sulfur volatil: Diallyl disulfide, Dipropyl
disulfide, Propyl allyl disulfide, Methyl propyl disulfide.
- Flavonoid:
Quercetin, Kaempferol.
- Fenolik
& asam organik: Caffeic acid, Ferulic acid,
Ascorbic acid.
- Pigmen
alami: Anthocyanin (memberi warna
merah keunguan pada kulit umbi).
Kombinasi
senyawa tersebut berperan penting dalam aktivitas antioksidan, antimikroba,
dan antiinflamasi, serta menentukan aroma khas bawang merah (Mnayer
et al., 2014; Najjaa et al., 2007).
SEJARAH
DAN PENGGUNAAN
Sejarah
penggunaan bawang merah (Allium ascalonicum L.) sebagai bahan
aromatik dan terapeutik telah tercatat sejak ribuan tahun yang lalu, terutama
di kawasan Mesir Kuno, Timur Tengah, dan Asia Selatan. Catatan tertua
menunjukkan bahwa bangsa Mesir dan Babilonia sudah menggunakan umbi bawang
merah dan bawang putih sebagai bahan pengawet, obat herbal, serta persembahan
religius sejak 3.500 SM (Benkeblia, 2005). Dalam naskah medis Mesir kuno Ebers
Papyrus (sekitar 1500 SM), ekstrak air dan uap dari tanaman Allium
digunakan untuk mengobati gangguan pencernaan, infeksi, serta penyakit kulit.
Pada
masa Yunani dan Romawi Kuno, Allium ascalonicum dikenal dengan nama "Ascalonia
cepa" â berasal dari kota pelabuhan Ascalon (sekarang Ashkelon,
Israel), yang diyakini sebagai tempat asal spesies ini sebelum menyebar ke
Eropa melalui jalur perdagangan Mediterania. Ahli botani Romawi seperti Pliny
the Elder mencatat bahwa bawang merah digunakan tidak hanya untuk masakan,
tetapi juga sebagai infus aromatik air yang dihirup untuk mengobati
pilek dan gangguan pernapasan ringan â bentuk awal yang menyerupai penggunaan
hydrosol saat ini.
Konsep
hydrosol atau air aromatik dari tanaman Allium mulai dikenal
lebih luas sejak pengembangan teknik destilasi sederhana oleh ilmuwan Persia
seperti Avicenna (Ibn Sina) pada abad ke-10. Meskipun fokus utama
destilasi pada masa itu adalah produksi minyak atsiri dari bahan aromatik
seperti mawar dan gaharu, proses serupa juga diterapkan untuk tanaman obat
non-floral, termasuk Allium sativum dan Allium ascalonicum, guna
memperoleh air aromatik atau hydrolate yang digunakan dalam pengobatan
tradisional.
Pada
abad ke-16 hingga ke-18, di Asia Tenggara termasuk Indonesia, bawang merah
menjadi salah satu tanaman rempah bernilai tinggi yang diperdagangkan. Dalam
praktik pengobatan tradisional Nusantara seperti Jamu dan Usada Bali,
air rebusan atau hasil kondensasi bawang merah digunakan untuk menurunkan
demam, meredakan batuk, mempercepat penyembuhan luka, dan mengusir serangga.
Walaupun pada masa itu belum dikenal istilah hydrosol, cara pembuatannya
mirip dengan proses distilasi air modern: umbi direbus dalam air tertutup
hingga uapnya mengembun menjadi cairan beraroma khas yang dimanfaatkan secara
empiris sebagai obat alami.
Dengan
berkembangnya teknologi penyulingan di abad ke-19 dan ke-20, terutama di Eropa,
hydrosol bawang merah mulai diperoleh sebagai hasil samping dari
destilasi minyak atsiri bawang merah (shallot essential oil). Di Sri Lanka,
India, dan Indonesia, proses destilasi uap yang digunakan untuk mengekstraksi
minyak atsiri menghasilkan fraksi air aromatik yang semula dianggap limbah.
Namun penelitian pada dekade terakhir mengungkapkan bahwa fraksi ini masih
mengandung senyawa bioaktif seperti dipropyl disulfide, methyl propyl
disulfide, dan phenolic acid derivates yang berpotensi antimikroba dan
antioksidan.
Dalam
konteks modern, hydrosol shallot mulai menarik perhatian dalam industri kosmetika
alami, aromaterapi, dan bioteknologi pertanian. Produk ini dipandang
sebagai solusi berkelanjutan dalam industri minyak atsiri karena memanfaatkan
hasil samping destilasi yang sebelumnya terbuang. Selain itu, hydrosol
shallot memiliki profil volatil yang lebih ringan dan aman, sehingga
dapat diaplikasikan langsung pada kulit sebagai natural antibacterial mist,
hair tonic, atau bahan aktif dalam organic preservative systems.
Dengan
demikian, perjalanan hydrosol bawang merah mencerminkan evolusi teknologi dan
pemanfaatan bahan alam â dari air rebusan tradisional yang digunakan dalam
pengobatan rakyat hingga menjadi produk bernilai tambah berbasis ilmiah
yang diakui dalam konsep green chemistry dan zero waste production.
Evolusi ini menunjukkan bagaimana sains modern kini mampu menegaskan nilai
fungsional dari warisan etnobotani kuno melalui pendekatan ilmiah dan inovasi
teknologi penyulingan berkelanjutan.
| Spesifikasi | |
|---|---|
| Sumber bahan baku | Sumber bahan: Umbi bawang merah Origin: Indonesia |
| Penanaman | Dipanen secara konvensional dan ditanam kembali secara berkala agar berkelanjutan |
| Organoleptik |
|
| Solubility | Larut dalam air dan alcohol, tidak larut dalam minyak |
| Blend well | Bisa dicampur dengan hydrosol lain maupun minyak esensial |
| Aplikasi produk hilir | Cosmetics and Personal Care Formulation |
| Umur Simpan | 12 bulan |
| Instruksi penyimpanan |
|
| Alergi dan tindakan pencegahan umum |
|
Login